Cari di Blog ini

Translate

Gunakan Ctrl+F untuk mencari kata dalam halaman ini

Rabu, 14 Juli 2010

KH. Abdullah Sajjad, Sumenep – Madura

(Gambar diatas merupakan modifikasi dari lukisan gambar Kiai Abdullah Sajjad)

Kiai Abdullah Sajjad adalah putra Kiai Syarqawi dari Nyai Qamariyah. Dilahirkan di Guluk-Guluk Sumenep Madura. Tanggal dan tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Namun demikian, nama besarnya tidak bisa dilupakan siapa pun.

Beliau adalah pahlawan kemerdekaan yang hidup di pinggiran kota yang bagi sebagaian orang kurang begitu tertarik untuk mengungkapnya. Memang beliau bukanlah sosok yang haus anjungan dan bangga dengan publikasi. Tanpa publikasi sekalipun, semerbak kemasyhurannya dikenal banyak orang. Itu semua karena kebesaran dan peran sosial politiknya yang tidak sederhana. Ia adalah tokoh fenomenal: pendidik, pejuang, dan penulis sekaligus.

Layaknya pemuda yang lahir dari rahim pondok pesantren, Abdullah Sajjad kecil oleh orang tuanya dikirim untuk mnimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Beliau pernah belajar di pesantren yang paling populer pada masanya, Pesantren Kadenmangan asuhan Syaikhona Khalil. Selain itu, beliau juga pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng jombang dan Pesantren Panji Sidoarjo.

Setelah beberapa tahun ngelmu di satu pesantren dan beralih ke pesantren yang lain, Abdullah Sajjad kembali ke habitat awalnya, Guluk-Guluk, untuk melanjutkan perjuang orang tuannya, yaitu mengembangkan pesantren. Dan sejak saat itu, beliau diberi kesempatan untuk merintis sendiri sebuah “pesantren” di pesantren Annuqayah. Inilah awal pemekaran dan pembiakan pesantren Annuqayah menjadi wilayah-wilayah dengan kebijaksanaan otonom.

Di wilayah barunya yang dikenal dengan Latee inilah Kiai Haji Abdullah Sajjad mengawali perannya sebagai pengajar yang ulet dan tangguh. Keuletan beliau terlihat dari aktifitasnya yang membarikan hampior seluruh waktunya untuk mengisi pengajian kitab setiap usai salat berjamaah, kecuali setelah salat Maghrib dan salat Subuh yang digunakan untuk pengajian Al-Quran. Tidak cukup dengan semata-mata mengajar para santrinya, Kiai Haji Abdullah Sajjad merasa bertanggung jawab dalam perbaikan moralitas masyarakat sekitarnya. Wujud tanggung jawab ini direalisasikan dengan merintis pengajian umum untuk masyarakat sekitar pesantren yang dilaksanakan setiap malam Ahad.

Dalam perkembangannya, minat peserta pengajian tidak saja terbatas pada pada masyarakat yang berdekatan dengan pesantren, tetapi juga meluas hingga ke berbagai daerah di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan. Beliaulah yang dikenal sebagai perintis pertama pengajian umum di Pesantren Annuqayah. Beliau juga dikenal dekat dengan dan begitu memperhatikan masyarakat bawah. Ini misalnya, sebagaimana dikisahkan Kiai Abdul Basith, salah satu putranya dari Nyai Aminah Az-Zahra’, setiap mendengar ada tetangga sakit, Kiai Abdullah Sajjad biasanya mengajak sebagian santrinya untuk menjenguk dan sekaligus membacakan Qasidah Burdah untuk si sakit. Jiwa sosial yang demikian mendalam mengaliri kepribadiannya.

Kalau Kiai Abdullah Sajjad lebih bergerak di luar, tidak halnya dengan Kiai ilyas. Kiai Ilyas lebih bergerak dalam membenahi internal pesantren. Ekspansinya yang demikian luas ke luar ini menyebabkan Kiai Abdullah Sajjad begitu mudah mendapat pengakuan masyarakat dan sebagai konsekuensinya beliau pernah terpilih menjadi kepala desa Guluk-Guluk. Penerimaannya untuk menjadi kepala desa didasarkan pada keinginan beliau untuk menanamkan Islam kepada warga masyakatnya melalui institusi desa. Dengan demikian, lengkaplah peran dakwah Kiai Abdullah Sajjad. Di samping ditopang pola pendekatan kultural melalui pengajian-pengajian umum yang telah dirintisnya, beliau juga memanfaatkan pola pendekatan struktural melalui lembaga desa.


Figur yang Kokoh Pendirian

Kiai Abdullah Sajjad merupakan tokoh yang tegas dan berkarakter. Tokoh yang satu ini tangguh dalam membela prinsip yang dipegangi dan lebih bersifat reaktif, atau bahkan cendrung antipati terhadap pelecehan yang dilakukan kalangan “modernis”. Sebagaimana diketahui, pertentangan antara kelompok “modernis” yang kerap diasosiakan dengan dengan Muhammadiyah dan kelompok “tradisionalis” yang diasosiasikan dengan Nahdlatul Ulama demikian meruncing, tidak terkecuali pada masa Kiai Abdullah Sajjad. Kiai Abdullah Sajjad dengan karakternya yang tegas dalam memebela prinsipnya pun terleibat dalam “pertarungan” gagasan ini. Ini misalnya, sebagaimana diuturakan Kiai Abdul Basith, dalam lembaran catatannya Kiai Abdullah Sajjad pernah menulis pembelaan terhadap penggunaan kata ushalli setiap kali memulai salat: satu hal yang didebat oleh kalangan Muhammadiyah. Model pembelaan ini juga menunjukkan konsistensi sikapnya dan ketegasan prinsipnya dalam membela keyakinan yang dianjurkan para ulama salafus shalih.


Bukti lain yang menunjukkan konsistensi dalam mempertahankan prinsip adalah anjurannya untuk selalu berhati-hati dan benar-benar mencermati ketika membaca “kitab-kitab tertentu”. Sebagaimana diutarakan Kiai Abdul Basith, Kiai Abdullah Sajjad pernah menulis catatan di lembaran kitab Fushusul Hikam karya Muhyiddin Ibn ‘Arabi yang menjelaskan anjuran untuk berhati-hati dalam membacanya sehingga tidak melahirkan kesimpulan yang “menyesatkan”. Tentu saja anjuran ini merupakan bagian dari pembelaannya terhadap prinsip yang diyakininya. Tentu saja, pembelaan tersebut diterapkan secara serampangan, tetapi melalui penelusuran dan pengamatan kritis.


Pejuang Kemerdekaan

Dibacakannya teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan wujud kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan. Namun sayang, meluapnya ambisi imprealistik menyebabkan Belanda kembali menjajah paska kemerdekaan 1945. Penjajah terus meluaskan wilayah ekspansinya hingga ke wailayah Madura. Ketika Belanda untuk kedua kalinya memasuki Madur pada tahun 1947, kepemimpinan Laskar Sabilillah di Sumenep yang semula dipegang Kiai Mohammad Ilyas diserahkan kepada Kiai Abdullah Sajjad yang pada saat itu beliau baru menjabat klebon (kepala desa) Guluk-Guluk. Melalui institusi itulah Kia Abdullah Sajjad menghimbau dan mengajak para warganya untuk terlibat dalam jalur politik : politik membela agama, bangsa, dan negara. Dihimpunlah masyarakat dalam wadah yang disebut dengan Laskar Sabilillah: suatu wadah yang difungsikan untuk menggalang dan menghimpun kekuatan dalam menentang penjajah yang kembali menguasai Sumenep. Ajakan ini mendapat respons yang positif dari warga masyarakat. Apresiasi masyarakat terhadap seruan kiai tentu saja ditopang oleh pola kehidupan masyarakat yang telah terbentuk dengan kokoh dan pada saat yang sama kedudukan kultural kiai pada saat itu telah mapan. Di pihak yang lain penindasan penjajah kian meningkat dan disinilah mulai terbentuk solidaritas bersama untuk menghadapi penjajah sebagai common enemy.

Dibantu keponakannya, Kiai Khazin yang bertindak sebagai pimpinan pasukan, Kiai Abdullah Sajjad lebih berposisi sebagai pengatur taktik dan strategi pertempuran. Begitu Belanda terus berusaha masuk ke arah Sumenep, tentara Sabilillah dengan gencarnya melakukan perlawanan. Mengingat peralatan perang Belanda tidak sesederhanan yang dibayangkan, upaya pertahanan terus dilakukan. Hingga suatu ketika pertahanan tidak lagi mampu membent\dung arus pasukan belanda, Kiai Khazin selaku pimpinan lapangan mengirim utusan ke Annuqayah, markas tentara sabilillah, agar pesantren Annuqayah dikosongkan. Sementara Kiai Mohammad Ilyas mengungsi di dusun Berca, daerah pedalaman Guluk-Guluk, Kiai Abdullah Sajjad mengungsi ke Karduluk, daerah sebelah timur Prenduan, dengan ditemani bebrapa santrinya.

Setelah empat bulan di pengungsian, datanglah sepucuk surat yang ditujukan kepada Kiai Abdullah Sajjad yang berisi pernyatan bahwa Guluk-Guluk aman terkendali dan Kiai Abdullah Sajjad dimohon untuk kembali ke Pesantren Annuqayah. Sebelum surat itu disampaikan kepada Kiai Abdullah Sajjad, pihak pimpinan pesantren Annuqayah yaitu Kiai Mohammad Ilyas dan Kiai Idris melakukan musyawarah dan akhirnya keduany apun menyetujui. Kiai Abdullah Sajjad pun kembali ke Pesantrren Annuqayah. Mendengar kedatangan Kiai Abdullah Sajjad, sontak saja masyarakat berkunjung ke pesantren untuk menemuinya. Sementara Kiai Abdullah Sajjad sedang ayik-asyiknya menemani para tamu di Mushallah sehabis beliau melaksanakan salat Maghrib, tiba-tiba sembilan serdadu Belanda datang dan menagkap beliau. Kiai Abdullah Sajjad pun dibawa ke lapangan Guluk-Guluk, dan disanalah beliau mengakhiri usianya akibat kekejaman dan kelicikan tentara penjajah. Beliau dibunuh di ujung kerakusan senapan penjajah. Peristiwa berkabung ini terjadi pada tahun 1947.

Meskipun Kiai Abdullah Sajjad telah wafat, namun semangat yang beliau hunjamkan di sanubari para pengikutnya terus bergelayut dan semangat untuk berjuang terus bergelora. Beberapa bulan kemudian, Kiai Khazin yang menjadi pimpinan pasukan Sabilillah yang sekaligus keponankan Kiai Abdullah Sajjad menyusul kepergian pamannya lantaran sakit setelah kembali dari pengungsian . Beliau mengungsi ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerejo, Asembagus Sitobondo. Pesantren ini oleh Belanda dinyatakan sebagai Heillige Zone (zonal suci) yang merupakan daerah terlarang terlarang bagi tentara Belanda. Artinya, tentara Belanda dilarang keras untuk memasuki kawasan tersebut walau untuk menangkap tokoh dan pejuang kemerdekaan sekalipun, sehingga pondok pesantren dijadikan sebagai penyembunyian dan sarang pelarian gerilyawan pasukan Indonesia.


Karya Peninggalannya

Di sela-sela kesibukannya mengurus para santri serta keterlibatannya dalam pengajaran masyarakat, ditambah lagi dengan keterlibatannya dalam medan juang melawan penjajah, Kiai Abdullah Sajjad masih bisa menyisihkan waktunya untuk merenung dan menulis karya. Satu-satunya karya yang menjadi saksi ketekunan beliau adalah Mandzumatur Risalah yang berisi sembilan puluh delapan bait nadlam yang isinya mengurai tentang cara berakidah yang tepat. Kitab ini disuguhkan dengan model tanya jawab dan disusun ddengan format nadlam. Ada bebrapa poin yang diperbincangkan kitab tersebut, yaitu tentang makna iman, hakikat iman, cara beriman kepada Allah, cara beriman kepada para malaikat, cara beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allahm cara beriman kepada para Nabi, jumlah kitab yang diturunkan, jumlah para Nabi dan Rasul, cara beriman pada hari akhir, cara beriman pada qadar, dan sebagainya. Sebagaimana disebutkan secara jelas dalam salah satu baitnya, kitab ini ditulis pada tahun 1360. Dan pada pada tahun 1418, Abu Muhammad Zaqien al-Maduri, nama samaran Kiai Abdul Basith, salah satu putra Kiai Abdullah Sajjad, memberikan komentar (syarh) singkat dengan judul kitab Idlahul Afadil Syarh Mandzumatul Masa’il.

Meskipun beliau hanya meninggalkan sebuah karya, namun semangatnya untuk meninggalkan karya semacam ini di sela-sela kesibukannya sebagai pendidik dan pejuang sekaligus merupakan fenomena yang langka. Dalam situasi sosial yang penuh pergoalakan ini, beliau hadir mempersembahkan sebuah karya yang tidak kecil maknanya bagi umat.

Demikaianlah sepotong sejarah pengabdian seorang figur fenomenal yang mencurahkan hidupnya demi kepentingan agama, bangsa, dan negaranya. Tulisan ini tidak mungkin mampu melukiskan “warna utuh” perjalanan sejarahnya. Begitu kaya nuansa yang dilakoninya sehingga mustahil dituangkan dalam tulisan yang teramat singkat ini. Tapi yang jelas, Kiai Abdullah Sajjad adalah figur fenomenal.[]

Dari berbagai sumber...dikutip dari pratikno.ananto@gmail.com


Selengkapnya....

Habib Ali bin Soleh Alatas, Bekasi - Jawa Barat

Pelantun Maulid Diba’ dari Bekasi

Dari sebuah toko kaset di Jalan Kartini, salah satu sudut kota Bekasi, terdengar lantunan Maulid yang mendayu berlanggam hadhrami, berirama khas Hadramaut. Syair tersebut, meski sangat populer, tak cukup akrab di telinga muhibin, yang lebih sering mendengar maulid Simthud Durar, yaitu Maulid Diba’. Sang pelantun seorang habib bersuara emas asal Bekasi yang sering kali melantunkannya tanpa sedikit pun membaca. Ratusan bait syair tentang sejarah kehidupan Rasulullah itu ia hafal di luar kepala. Tak tanggung-tanggung, empat buah album kaset maulid, ratib, dan selawat telah diluncurkannya sejak tahun 1993 lalu.

Figur kita, yang kerap tampak di perhelatan spiritual para habib, kali ini adalah Habib Ali bin Soleh Alatas, ulama yang kental berdialek Betawi, pengasuh Majelis Taklim Ar-Ridwan, Bekasi Kidul. Ihwal kepiawaian Habib Ali membaca maulid karya Syekh Abdurrahman Ad-Diba’i ini berasal dari sang kakek, Habib Muhammad bin Muhsin Alatas, generasi pertama habaib yang menjejakkan kaki di Bekasi, dan ayahnya, Habib Soleh bin Abdullah Alatas.

Sang ayah, Habib Soleh Alatas, adalah kemenakan sekaligus menantu Habib Muhammad bin Muhsin Alatas. Sebelum menetap di Bekasi, ia pernah merantau ke Jambi, dan sempat menikah dengan seorang gadis yang memberinya lima orang anak. Beberapa tahun kemudian, Habib Soleh kemudian menetap di Bekasi dan mendirikan majelis taklim Ar-Ridwan, yang diasuhnya hingga wafat pada malam Kamis, 10 Muharam, atau 23 Januari tahun 1975.

Di Bekasi, Habib Soleh menikah dengan putri pamannya, Habib Muhammad bin Muhsin Alatas, Syarifah Nur, yang kemudian memberinya tujuh orang putra-putri. Habib Ali sendiri lahir pada tahun 1950, putra sulung pasangan tersebut.

Dari sang mertua pula Habib Soleh pertama kali belajar melantunkan bait-bait maulid Ad-Diba’i, yang kemudian diturunkan kepada semua putra-putrinya. Meski kemudian hanya Habib Ali yang mewarisi kepiawaian sang ayahanda, menghafal dan melantunkan maulid Diba’.

Ketika Habib Soleh wafat pada 10 Muharam atau 23 Januari 1975, Habib Ali pun mulai sering diminta membaca maulid Diba’ di berbagai tempat. Ia juga melanjutkan kebiasaan sang Ayah, membaca maulid tersebut setiap malam Jumat di musala sebelah rumahnya. Dari seringnya membaca, Habib Ali pun akhirnya hafal di luar kepala.

Berbincang dengan ulama yang satu ini memang terasa segar. Derai tawa renyah sering mengiringi ungkapan-ungkapannya yang penuh hikmah. Di beranda rumahnya di Jalan Kartini/Mayor Oking, Bekasi Kidul, Habib Ali bertutur tentang perjalanan hidupnya.

Habib Ali bin Soleh Alatas mulai belajar agama kepada sang ayah, yang menurutnya sangat keras dalam mendidik. Selain itu, di waktu kecil, ia juga mengaji fikih kepada mualim Mu’thi dan belajar membaca Al-Quran kepada Ustaz Muhammad Ali, guru ngaji setempat. Ketika beranjak dewasa, secara intensif Habib Ali mengikuti pengajian Habib Abdurrahman Asegaf, Bukitduri.

Ayahnya, Habib Soleh, sangat menekankan pendidikan keluarga pada bidang akhlak dan moralitas. Menurut Habib Ali, abanya sering sekali mengatakan, “Orang berilmu belum tentu berakhlak, tetapi orang yang berakhlak sudah tentu berilmu. Biar ilmunya banyak kalau akhlaknya rendah, rendah derajatnya. Dan sebaliknya, biarpun sedikit ilmunya tetapi tinggi akhlaknya, tinggi pula derajatnya.”

Habib Ali kemudian mengutip perumpamaan orang yang berilmu tetapi tidak berakhlak, yang sering diucapkan sang aba waktu mengajarnya, “Kalau ente berjalan di tempat terbuka waktu hujan sambil membawa payung, kehujanan nggak? Ya tetep kehujanan, kecuali kalau payungnya dibuka dan dipakai.”
Akhlak, tandas Habib Ali, adalah wujud pengamalan ilmu, dan saat ini banyak orang yang ke mana-mana membawa ilmu tetapi tidak pernah memakainya. “Bukankah Rasulullah sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak umatnya?” ungkap Habib Ali. Orang yang belajar tetapi tanpa akhlak dan ihtiram, penghormatan terhadap ilmu, tidak akan mendapat berkah.

Dari perkawinannya dengan Syarifah Lu’lu binti Abdullah Alatas, Habib Ali dikaruniai tujuh orang anak. Beberapa tahun lalu hatinya sempat gundah, saat putra sulungnya, penghafal Diba’ yang diharapkan akan meneruskan jejaknya, meninggal. Ia baru lega, ketika mengetahui bahwa Abdullah, anak keempatnya yang baru pulang dari Hadramaut, ternyata juga sudah menguasai maulid Diba’ dan siap meneruskan jejaknya.

Dalam mendidik putra-putrinya, Habib Ali memang cukup demokrat. Ia tidak pernah memaksa anaknya untuk menjadi ini-itu. “Biar anak yang memilih jalannya sendiri, orangtua tinggal mendukung. Yang penting mereka tetap berada di jalan Allah,” tuturnya. Seyogianya orangtua, tambah Habib Ali, tidak mendidik anak agar takut kepada mereka, melainkan agar secara sadar dan ikhlas menghormati.


Mulai Rekaman

Tahun 1990, Habib Ali bin Soleh Alatas diminta oleh Radio Asyafi’iyyah, Jatiwaringin, untuk membacakan maulid Diba’ dan disyiarkan secara luas. Langgam, irama maulidnya, yang khas, segera menarik perhatian para pendengar. Sejak itu pula undangan membaca maulid Diba’ semakin membanjir. Bahkan pada tahun 1993, ia diminta rekaman oleh perusahaan Virgo Record.

Setelah album perdananya, berturut-turut permintaan rekaman berdatangan dari Naviri Record dan beberapa studio rekaman lain, untuk melantunkan ratib, Simthud Durar, dan terakhir kumpulan selawat yang diiringi organ tunggal. Sebagian album kaset tersebut hingga kini masih terpajang rapi di etalase toko minyak wangi dan peralatan muslim miliknya yang tak terlalu jauh dari rumah.

Dengan kepiawaiannya, banyak orang yang meminta Habib Ali mengajari pembacaan maulid Diba’ secara khusus. Namun, keterbatasan waktunya, yang padat dengan kegiatan mengajar dan berdakwah, membuat Habib Ali belum bisa memenuhi permintaan tersebut. Di luar aktivitas mengasuh majelis taklim peninggalan sang ayah, ia juga mengajar di beberapa majelis taklim di Pengasinan, Kemayoran, Cikuning, Pondok Kelapa, dan Jatimakmur, Bekasi. Ia, tuturnya merendah, ingin mengamalkan sedikit ilmunya, seraya berharap keberkahan.


Kanker Payudara

Kini, anggota jemaah pengajian Habib Ali mencapai seribuan orang, termasuk pengajian setiap malam Jumat di musala sebelah rumahnya. Ia mengaku materi pengajiannya sangat ringan dan mudah dicerna, karena kebanyakan tentang akhlak dan perilaku sehari-hari.

Materi yang paling sering diangkatnya adalah persoalan keluarga. Ini karena ia mulai sangat khawatir dengan kondisi anak-anak zaman sekarang. Misalnya motivasi sekolah yang lebih kepada nilai ijazah daripada pengamalan dan keberkahan ilmu.

Faktor terbesar yang menunjang proses demoralisasi ini, ungkap Habib Ali berapi-api, adalah keteledoran orangtua yang seharusnya menjadi murabbi, pendidik, bagi anak-anaknya. Kesalahan itu biasanya dimulai dari penyerahan pengasuhan anak kepada baby sitter atau orang lain, yang tentu tidak akan sebaik ibu kandungnya. Lalu ditambah dengan dirampasnya rezeki anak yang paling mendasar, yang telah diamanatkan Allah melalui orangtua, pemberian ASI.

Belakangan, karena alasan berkarier atau kesibukan, banyak orangtua yang tidak mau terlalu lama terbebani tugas menyusui. Ibu-ibu pun kemudian mempercepat penghentian pemberian ASI dan menggantinya dengan susu sapi. Padahal, menurut konsep Al-Quran, anak mempunyai hak disusui oleh ibunya selama dua tahun.

“Bukankah ini sebuah kezaliman orangtua terhadap anak?” tambah Habib Ali keras. “Maka jangan salahkan anak, jika setelah besar berbuat zalim kepada orangtuanya.” Akhirnya, ketika tidak menyukuri rezeki alami yang diberikan Allah, kaum perempuan pun mulai menuai peringatan dan azab, dengan datangnya berbagai macam penyakit, seperti kanker payudara.


Dakwah Bil Hal

Materi-materi sederhana memang selalu ditekankan Habib yang selalu berusaha memberikan contoh dalam kebaikan ini, setiap kali mengajar. “Justru karena sederhana, sering disepelekan,” ungkapnya. Habib yang masih tampak energik ini juga menambahkan, “Padahal konsep baldatun thayyibah wa rabbun ghafur, atau dalam bahasa kita disebut negara adil makmur sejahtera, itu dimulai dari keluarga yang saleh dan bahagia.”

Konsep ajaran Islam itu indah, dan penuh penghormatan. Anak harus menghormati orangtua, orangtua menyayangi yang lebih muda; antar-tetangga, meskipun bukan muslim tetap harus saling menghormati.
Kini di usianya yang telah melewati separuh abad, Habib Ali merasa bersyukur tinggal di tengah masyarakat yang rata-rata muhibin. Untuk itulah ia berusaha melayani mereka semampunya.
Para tetangga mengakui, Habib Ali sangat peduli dengan kondisi masyarakat sekitar. Ia sering kali menjadi pelopor dalam setiap kegiatan. Setiap kali ada tetangga yang meronda atau berjaga di sekitar rumahnya, dengan sigap Habib Ali selalu menyediakan konsumsi, bahkan terkadang ikut menemani.

Habib Ali menyadari, sebagian besar masyarakat sekitarnya adalah golongan ekonomi lemah. Karena itu pula, ia ingin selalu berbagi rezeki dengan mereka. Ia berprinsip, khairur rizqi ma yakfi, sebaik-baiknya rezeki adalah yang bisa mencukupi. Dan merasa cukup itu adalah kekayaan dan keberkahan terbesar manusia. []

Dari berbagai sumber..dikutip dari pratikno.ananto@gmail.com


Selengkapnya....

Jumat, 09 Juli 2010

KH. Abdul Wahid Hasyim, Jombang - Jawa Timur


Riwayat Singkat

Lahir : 1 Juni 1914
Wafat : 19 April 1953


Pendidikan
    Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim
  • Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, Jatim
  • Pesantren Lirboyo Kediri, Jatim
  • Makkah Mukkaramah

Perjuangan/Pengabdian
  • Ketua Dep Ma'arif PBNU
  • Ketua MIAI
  • Ketua Masyumi
  • Perintis berdirinya Hizbullah
  • Pendiri Sekolah Tinggi Islam Jakarta
  • Kepala Jawatan Agama Pusat(Shumubucho)
  • Anggota termuda BPUPKI
  • Penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman
  • Ketua Umum PBNU
  • Menteri Agama


Pada 22 Desember 1951, sebuah majalah ibu kota memuat artikel yang secara keras mengkritik para tokoh Islam. Penulisnya adalah Ma'mun Bingung. Di bawah judul tulisan "Umat Islam Indonesia Menunggu Ajalnya, tetapi Pemimpin-pemimpinnya Tidak Tahu" , Ma'mun Bingung menguraikan dua peristiwa yang dinilai mengandung isyarat penting.

Peristiwa pertama adalah adanya konferensi yang dihadiri para profesor Kristen se-Asia yang berlangsung di Priangan. Dan kedua, peristiwa peletakan batu pertama pembangunan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang dilakukan oleh presiden (rektor) universitas negeri itu, Prof. Dr. Sardjito. Dalam pertemuan profesor se-Asia, secara terbuka disampaikan rencana menjadikan Indonesia sebagai negara Kristen. Sedangkan dalam kegiatan peletakan batu pertama kampus UGM, ada seorang tokoh yang mengusulkan sesuatu yang dinilai aneh. Karena kampus UGM terletak di antara Candi Borobudur dan Candi Prambanan, maka demikian usulnya, kelak dia harus bisa menjelmakan (reinkarnasi) kedua candi itu.

Dalam tulisan itu Ma'mun Bingung tidak memprotes ide menjadikan Indonesia sebagai Negara Kristen atau kampus UGM sebagai jelmaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan. "Di dalam negara demokrasi seperti Indonesia, tiap-tiap orang boleh berbicara apa yang dikehendaki, boleh mengemukakan pendapat dan pikiran dengan sebebas- bebasnya asal di dalam bebas-batas undang-undang," demikian tulisnya.

"Hanya kepada umat Islam yang menurut hukum demokrasi mempunyai hak hidup dan mengeluarkan pikiran, kami mengeluarkan kritik ini. Terutama kepada para pemimpin Islam. Kami menyesal karena adanya peristiwa demikian itu tidak ada seorang pun dari pemimpin tergerak hatinya untuk menunjukkan kepada umat Islam di Indonesia agar jangan tetap dalam tidur nyenyaknya dan mabuk politik yang membahayakan," kata Ma'mun Bingung melalui tulisannya.

Siapa Ma'mun Bingung, penulis artikel pedas itu? Dia tak lain adalah KH. Abdul Wahid Hasyim. Nama Ma'mun Bingung merupakan salah satu saja dari sekian banyak nama samaran yang dipakainya ketika menulis artikel.

Cuplikan pendek artikel itu, setidak-tidaknya menampakkan tiga hal mendasar yang memperlihatkan sosok penulisnya.

Pertama, betapa KH. Abdul Wahid Hasyim memiliki jiwa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan paham dan bersikap proporsional dalam menyikapi setiap persoalan yang dihadapi;

Kedua, besarnya kepedulian terhadap peningkatan kualitas hidup umat Islam; dan

Ketiga, adalah sikap kritisnya yang tak pernah padam meskipun menyangkut umat Islam sendiri. Melalui tulisannya, kita menangkap getaran keprihatinan yang sangat dari KH. Abdul Wahid Hasyim, setiap dia menyaksikan kondisi umat Islam ketika itu. Sungguh aneh di mata Wahid Hasyim. Banyak pemimpin Islam waktu itu yang secara verbal sering menggembar-gemborkan perjuangan Islam melalui berbagai jalur, terutama jalur politik, justru membiarkan umat Islam hidup dalam kualitas serba memprihatinkan. Menurutnya, banyak orang membawa bendera Islam untuk kepentingan yang sebenarnya bertolak belakang dengan semangat Islam.

Melihat profil dan sikap KH. Abdul Wahid Hasyim seperti itu, segera orang menjadi mafhum jika menyaksikan hal yang sama juga terjadi pada salah seorang puteranya, yakni KH. Abdurrahman Wahid (mantan Ketua Umum PBNU). Rupanya dalam beberapa hal KH. Abdurrahman Wahid mewarisi karakter yang dimiliki sang ayah.


Kelahiran dan Masa Kecilnya

Abdul Wahid adalah putera kelima pasangan KH. Hasyim Asy'ari dengan Nyai Nafiqah binti K. Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari Jumat Legi, 5 Rabiul Awal 1333 H. bertepatan dengan 1 Juni 1914 M. ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Sewaktu mengandung putera kelimanya ini, kondisi kesehatan Ny. Nafiqah agak memburuk. Badannya lemah dan sering sakit-sakitan. Karena itu, suatu hari Ny. Nafiqah bernazar, "Jika nanti bayi yang aku kandung lahir dengan selamat, dia akan aku bawa ke guru ayahnya (KH. Cholil) di Madura."

Semula oleh sang ayah akan diberi nama Muhammad Asy'ari, tetapi urung karena kurang sesuai. Sebagai lelaki pertama, nama Abdul Wahid diambil dari nama seorang datuknya, dirasakan paling cocok. Namun demikian, ibunya memanggil Abdul Wahid dengan Mudin. Sedangkan beberapa kemenakannya memanggil dengan Pak It.

Kesepuluh putera KH. Hasyim Asy'ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid, Hafidz, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah dan Muhammad Yusuf. Sementara itu, dengan Nyai Masrurah KH. Hasyim Asy'ari dikaruniai empat orang putera, yakni Abdul Kadir, Fatimah, Chodijah dan Ya'kub.

Nazar mesti dipenuhi. Ketika berusia tiga bulan, bayi Abdul Wahid oleh ibunya dibawa ke Bangkalan Madura untuk dipertemukan dengan KH. Cholil, Ny. Nafiqah ditemani Mbah Abu.

Suatu pengalaman spiritual untuk pertama kali dialami bayi Abdul Wahid. Setibanya di kediaman Mbah Cholil, sebutan populer KH. Cholil, hari sudah merangkak malam. Cuaca ketika itu buruk, hujan turun disertai sambaran petir. Anehnya dalam suasana seperti itu, Ny. Nafiqah beserta bayinya tidak diperkenankan masuk rumah. Oleh tuan rumah malahan dia diminta tetap berada di halaman. Sudah tentu mereka harus berhujan-hujanan.

Kasihan melihat bayinya menggigil tertepa air hujan, Ny. Nafiqah mencoba menempatkannya di emperan rumah biar tidak kehujanan. Sambil menaruh bayi Abdul Wahid di bawah emperan, Ny. Nafiqah tak henti- hentinya berucap, "La Ilaha Illa Anta, Ya Hayyu Ya Qayyum (tiada Tuhan melainkan Engkau, hai Tuhan yang menjaga dan menghidupkan)." Tahu hal ini, Mbah Cholil marah dan memintanya agar bayi itu dibawa ke tengah halaman. Ny. Nafiqah menuruti saja perintah itu.

Akhirnya, Mbah Cholil minta kepada Ny. Nafiqah agar segera meninggalkan tempat itu. Tidak ada pilihan lain, Ny. Nafiqah pun pulang ke Jombang dengan seribu tanda tanya yang tidak terjawabkan ketika itu; kenapa Mbah Cholil berbuat seperti itu. Rupanya kejadian di luar kebiasaan itu menjadi salah satu pertanda bahwa Abdul Wahid kelak akan menjadi orang yang tergolong luar biasa. Ternyata hal itu terbukti di kemudian hari.


Mondok Cukup dengan Hitungan Hari

KH. Hasyim Asy'ari adalah seorang kyai terkenal yang sangat disiplin dalam memimpin. Kepemimpinannya sangat efektif dan unggul sehingga sebagian besar orang yang dipimpinnya menjadi "orang" di kemudian hari. Hampir semua kyai kenamaan pengasuh pesantren pada dekade '40-an sampai '70-an pernah berguru pada KH. Hasyim Asy'ari. Dia juga berjiwa demokratis. Kedisiplinan dalam memimpin dan sikap demokratisnya tampak menonjol dalam kehidupan keluarga, terutama dalam mendidik putera-puterinya. Sebagai ulama besar beliau mengharapkan putera-puterinya bisa mengikuti jejak dan berkembang menjadi generasi yang berpengetahuan luas, khususnya dalam ilmu agama. Untuk itulah suasana kehidupan keluarga diciptakan sedemikian rupa sehingga mendukung proses pembelajaran seluruh anggota keluarganya. Sejak dini putera-puterinya diperkenalkan dengan pengetahuan agama Islam dan dibebaskan untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum. Tidak soal baginya bagaimana mendapatkan buku bahan bacaan bagi putera-puterinya sebab secara ekonomi dia tergolong mampu untuk ukuran saat itu. Dalam suasana seperti itulah Abdul Wahid tumbuh dan berkembang.

Abdul Wahid berotak sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak dia sudah pandai membaca al-Qur'an, dan malah sudah khatam al-Qur'an ketika masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Abdul Wahid belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari madrasah dia sudah bisa membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak seusianya.

Sebagai anak tokoh, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Dia lebih banyak belajar secara autodidak. Selain belajar di madrasah, dia banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Abdul Wahid mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanya dengan baik. Pada usia 13 tahun dia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana dia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan dia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi dia di pesantren ini mondok dalam waktu yang singkat, beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan oleh Abdul Wahid adalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya itu sendiri. Soal ilmu, demikian mungkin dia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara bagaimana saja. Tapi soal memperoleh berkat soal kiai? Inilah yang agaknya menjadi pertimbangan utama dari Abdul Wahid ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid tidak meneruskan belajar di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, toh Abdul Wahid bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Benar juga, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak padam, terutama belajar secara autodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik Pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun dia sudah mengenal huruf Latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Pada tahun 1932 ketika menginjak usia 18 tahun, dia dikirimkan ke Mekkah, disamping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muchammad Ilyas (kelak menjadi Menteri Agama). Muchammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Abdul Wahid sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Muchammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa Arab, mengajari Abdul Wahid dalam bahasa ini. Di tanah suci dia belajar selama dua tahun.

Jarang ada orang yang memasuki suatu organisasi atau perhimpunan atas dasar kesadaran kritis. Pada umumnya orang aktif dalam sebuah organisasi atas dasar tradisi -mengikuti jejak kakek, ayah atau keluarga lain- karena ikut-ikutan atau karena semangat primordial. Tidak terkecuali bagi kebanyakan warga NU. Sudah lazim orang ber-NU karena keturunan: ayahnya aktif di NU, maka secara otomatis pula anaknya masuk dan menjadi aktivis NU. Kelaziman seperti itu agaknya tidak berlaku bagi Abdul Wahid Hasyim. Proses ke-NU-an Wahid Hasyim berlangsung dalam waktu cukup lama, setelah melakukan perenungan mendalam. Dia menggunakan kesadaran kritis untuk menentuk pilihan organisasi mana yang akan dimasuki.

Waktu itu April 1934. Sepulang dari mukim di Mekkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Wahid Hasyim aktif di perhimpunan atau organisasi yang dipimpinnya. Tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama. Pada tahun-tahun itu di tanah air banyak berkembang perkumpulan atau organisasi pergerakan. Baik yang bercorak keagamaan maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis organisasinya, dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh- tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Wahid Hasyim ke tanah air disambut penuh antusias para pemimpin perhimpunan dan diajak bergabung dalam perhimpunannya. Ternyata tak satu pun tawaran itu yang diterima, termasuk tawaran dari NU.

Apa yang menjadi pergulatan pemikiran Abdul Wahid sehingga dia tidak secara cepat menentukan pilihan untuk bergabung di dalam salah satu perkumpulan? Waktu itu memang ada dua alternatif di benak Wahid Hasyim. Kemungkinan pertama dia menerima tawaran dan masuk ke dalam salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Dan kemungkinan kedua, mendirikan perhimpunan atau partai sendiri. Di mata Wahid Hasyim, perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak memuaskan. Itulah yang menyebkan dia agak ragu kalau harus masuk dan aktif di partai. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap perhimpunan. Menurut penilaian Wahid Hasyim, Partai A kurang radikal, Partai B kurang berpengaruh, Partai C kurang memiliki kaum terpelajar dan Partai D pimpinannya dinilai tidak jujur.

"Di mata saya, ada seribu satu macam kekurangan yang ada pada setiap partai," tegas Wahid Hasyim ketika berceramah depan pemuda yang tergabung dalam organisasi Gerakan Pendidikan Politik Muslimin Indonesia.


Geraknya Lambat

Selama empat tahun Wahid Hasyim menimbang-nimbang berbagai tawaran yang diterima. Sesudah itu barulah pilihan dijatuhkan kepada organisasi Nahdlatul Ulama. Tepatnya tahun 1938 dia menyatakan menerima tawaran untuk aktif di NU. "NU saya pilih untuk mengembangkan sayap dan kecakapan," ujarnya. Dalam buku Mengapa Memilih NU? Wahid Hasyim menjelaskan alasan dia memilih NU sebagai tempat "berlabuh".

Mula-mula dia menyadari bahwa tidak ada satu pun perhimpunan yang seratus persen memuaskan. "Ibarat jodoh, yang sungguh-sungguh memuaskan kecantikannya, kecerdasannya, rumahnya, saudaranya, kemenakannya dan lain-lainnya lagi, pasti tidak terdapat di dunia ini," ujarnya membuat tamsil. Karena itu menurut Abdul Wahid Hasyim, harus dipilih perkumpulan yang paling ringan tingkat kekurangannya. Untuk ini dia menggunakan tolok ukur tersendiri, yaitu pertama ukuran keradikalan. Dari segi ini, Wahid Hasyim mengakui bahwa NU kurang memenuhi keinginannya.

"Nahdlatul Ulama merupakan perhimpunan orang-orang tua yang geraknya lambat, tidak terasa dan tidak revolusioner," tuturnya. Tetapi ada kenyataan lain yang membuat NU di mata Wahid Hasyim memiliki nilai lebih dibandingkan dengan perhimpunan lain, bahkan dari perhimpunan kaum muda sekalipun. Beberapa perhimpunan pemuda Islam yang ada, selama lebih satu dasawarsa mengembangkan sayapnya, baru memiliki cabang di 20 tempat dan itu pun tempatnya berdekatan. Sedangkan perkembangan NU di mata Wahid Hasyim demikian lain. Mesti ada sesuatu yang berbeda dengan NU. Hanya dalam tempo satu dasawarsa, NU telah berkembang mencapai 60% di berbagai daerah dan hampir merata di seluruh Indonesia.

Lalu Wahid Hasyim mempertanyakan sendiri tolok ukur yang pernah dipergunakan sebagai kriteria untuk menentukan pilihan. Apa artinya radikal dan revolusioner jika hasilnya hanya sebatas itu. Masak selama sepuluh tahun hanya memiliki puluhan cabang yang berada di satu-dua keresidenan saja. Radikalisme dan revolusioner memang menimbulkan kesan gagah. "Tapi yang penting dalam hal ini bukanlah kegagahan di dalam berjuang, melainkan hasil yang dicapai dalam perjuangan itu sendiri," kata Wahid Hasyim.

Ada lagi ukuran lain yang dijadikan Wahid Hasyim untuk menentukan pilihannya, yaitu banyaknya kaum terpelajar yang tergabung di dalamnya. Jika ukuran ini yang dipakai, jelas NU tidak masuk hitungan. Untuk mencari akademisi di dalam NU, Abdul Wahid Hasyim mentamsilkan orang dengan mencari penjual es pada pukul satu malam. Tetapi Wahid Hasyim menanggalkan sendiri penggunaan ukuran "banyaknya kaum terpelajar ini". Menurut Wahid Hasyim, banyaknya kaum terpelajar bukan menjadi jaminan suatu perhimpunan akan maju.

"Bukan hanya otak yang menyebabkan majunya perhimpunan atau partai, melainkan juga mentalitas," ujarnya seraya menunjukkan sejumlah contoh. Banyak perhimpunan yang waktu itu dipenuhi kaum terpelajar, tetapi karena mentalitasnya tidak memadai, maka perhimpunan itu tidak maju-maju. Waktu dan tenaganya habis untuk mengatasi pergolakan yang terjadi di dalam. Dia menunjuk PKI salah satu contoh partai yang solid, padahal tidak memiliki banyak kaum terpelajar.

Wahid Hasyim juga berbeda pandangan dengan kebanyakan pemuda Islam lain kala itu dalam melihat NU. Selama ini kalangan pemuda Islam enggan memasuki organisasi NU karena dua alasan:

Pertama, NU dinilai terlalu kuat menuntut anggotanya dalam urusan menjalankan kewajiban agama. Misalnya setiap anggota NU harus "beres" dalam melaksanakan shalat, shalat Jum'at, puasa atau ibadah lain. NU menerapkan ukuran yang berat kepada anggotanya dalam soal tersebut. Seandainya ada kehidupan prive (pribadi) anggota NU yang kurang sedap di mata kyai NU, yang bersangkutan akan mendapat peringatan keras. Hal ini menyebabkan orang luar sering memandang NU sebagai organisasi yang menakutkan; dan

Kedua, adalah berkenan dengan kedudukan ulama di dalam NU yang dinilai memonopoli perhimpunan. Sedangkan para ulama sendiri selalu menyandarkan pemikiran, perkataan dan perbuatannya kepada para ulama terdahulu melalui kitab-kitab karyanya. Menurut anggapan sebagian pemuda Islam waktu itu, kemerdekaan berpikir dan bergerak di dalam perhimpunan NU sudah tentu akan sangat terhambat oleh pandangan para ulama yang dipandang kolot seperti itu.

Menghadapi pandangan seperti itu, Wahid Hasyim semakin berketetapan hati untuk masuk NU. Menurut Wahid Hasyim, jika orang mau bersungguh- sungguh menyelidiki NU akan ditemui kenyataan bahwa kedudukan ulama di dalam NU tidak lebih dari anggota biasa. Ulama tidak memonopoli perhimpunan. Kedudukan ulama di dalam tubuh NU digambarkan oleh Wahid Hasyim sebagai penjaga ajaran Islam dari kemungkinan dilanggar oleh anggotanya. Jika ajaran agama Islam dilanggar oleh penganutnya sendiri, siapa yang akan bersedia memelihara dan menjaganya, kalau bukan ulama?

Wahid Hasyim juga tidak melihat bahwa kehadiran ulama NU sebagai "penjaga" ajaran Islam menyebabkan ajaran Islam menjadi statis atau jumud. Para ulama dinilai bisa mengakselerasi dan menyesuaikan pemikiran keagamaan secara tepat terhadap perkembangan keadaan, sejauh hal itu tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Selama empat tahun Wahid Hasyim mengembangkan pemikiran kritisnya terhadap eksistensi berbagai perhimpunan atau partai yang ada, baik yang berdasarkan Islam maupun kebangsaan. Setelah itu dia pun memilih NU, dengan keyakinan yang kuat bahwa NU bisa lebih memberi banyak kemungkinan bagi kebangkitan umat Islam di Indonesia.

"Faktor-faktor di dalam yang dahulu saya anggap sebagai rintangan bagi kemajuan malah sebaliknya, justru menjadi faktor yang mempercepat kemajuan," katanya beragumentasi.

Keterlibatan Wahid Hasyim di NU dirasakan menambah kekuatan tersendiri bagi perkumpulan ini. Dia memulai keterlibatannya dari bawah sekali, yaitu menjadi penulis NU Ranting Cukir, sebuah struktur organisasi di NU paling bawah. Tidak lama sesudah itu dia sudah dipercaya menjadi ketua NU Cabang Jombang. Kariernya di organisasi melaju cepat, selang dua tahun yaitu tahun 1940, HBNO mengesahkan Departeman Ma'arif (pendidikan) sebagai departemen yang pengurusnya berdiri sendiri dan memiliki anggaran rumah tangga sendiri. KH. Abdul Wahid ditunjuk sebagai penanggung jawab proses pembentukan Ma'arif yang berdiri sendiri itu. Sekaligus KH. Abdul Wahid Hasyim dipercaya untuk menjadi ketuanya. Inilah awal keterlibatan Abdul Wahid Hasyim dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama di tingkat pusat (PBNU).


Pribadi Tawadhu'

Meskipun dikenal sebagai pemimpin nasional yang berpikiran maju, KH. Abdul Wahid Hasyim tetap memiliki sikap tawadhu (kepada para ulama, lebih-lebih kepada ayahandanya Hadhratusysyaikh Hasyim Asy'ari. Hal itu, antara lain bisa dilihat ketika melakukan percakapan sehari-hari dengan sang ayah. Kepada KH. Abdul Wahid Hasyim, Hadhratusysyaikh Hasyim Asy'ari biasa melakukan percakapan dengan bahasa Arab yang fasih. Tetapi KH. Abdul Wahid Hasyim selalu menjawab dengan bahasa Jawa halus (kromo inggil). KH. Abdul Wahid Hasyim kurang lancar bercakap-cakap dengan bahasa Arab? Jelas bukan. Penggunaan bahasa Jawa halus saat bercakap-cakap dengan ayahnya dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim untuk memperlihatkan sikap tawadhu (rendah hati) kepada orangtuanya. Apalagi jika percakapan itu disaksikan oleh orang ketiga atau orang keempat. KH. Abdul Wahid Hasyim ingin menghindari jangan sampai ada orang yang tersinggung atau tidak paham dengan yang dibicarakan.

Hidupnya sederhana, ilmunya mendalam dan cara berpikirnya moderat. Karena itu menjadi mudah baginya untuk melakukan sesuatu dalam kondisi apa pun. Tidak menjadi soal baginya kalau suatu waktu harus mengenakan kain pantalon, atau jas berdasi tanpa mengenakan kopiah hitam, sementara di kesempatan yang lain dia mesti mengenakan kain sarung atau baju takwa. Ketika berada di Jombang, untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari KH. Wahid Hasyim memiliki kendaraan pribadi mobil merk Chevrolet Cabriolet berwarna putih. Sedangkan di Jakarta dia biasa menyetir sendiri mobil Fiatnya.

Abdul Wahid Hasyim bertubuh agak pendek, sedikit gemuk dengan kulit sawo matang dan berhidung mancung. Lehernya sedikit pendek dan dadanya bidang, dengan tahi lalat di dada, bahu kiri sebelah atas dan salah satu ujung jarinya.

Pada usia 25 tahun, Abdul Wahid mempersunting gadis Solichah puteri KH. M. Bisri Syansuri , yang waktu itu berusia 15 tahun. Pasangan ini dikaruniai enam putera, yaitu Abdurrahman Ad-Dakhil (mantan Ketua Umum PBNU), Aisyah (salah seorang wakil ketua PP Muslimat NU), Salahudin Al-Ayyubi (insinyur lulusan ITB), Umar (dokter lulusan UI), Chadijah dan Hasyim.

Salah satu kebiasaan yang melekat pada diri KH. Abdul Wahid Hasyim adalah kegemaran berkirim surat kepada kawan-kawannya. Berkirim surat menjadi salah satu media silaturahim yang dipilih di kala yang bersangkutan tidak banyak kesempatan untuk bersilaturahim secara langsung. Surat-surat itu umumnya berisi pandangan politik, arah perjuangan dan cita-citanya. Segalanya ditulis dengan bahasa yang menarik, lancar dan tak lupa dibumbui humor segar.

Mendudukkan para santri dalam posisi sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Dia tidak ingin melihat santri berkedudukkan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah langsung membina pondok pesantren asuhan ayahandanya.

Pertama-tama dia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji cobanya dinilai berhasil. Karena itu, pada tahun 1935 model pendidikan yang diujicobakan itu diterapkan secara besar- besaran dengan mendirikan madrasah modern bernama Madrasah Nazamiyah. Di madrasah ini diajarkan materi pelajaran yang sebelumnya tidak pernah ada di pesantren. Dia membuka fan-fan pengetahuan umum yang kala itu merupakan barang asing di dunia pesantren. Karena itu dia dikenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren.

"Biarlah saya tidur di mushalla ini saja," kata KH. Abdul Wahid Hasyim ketika melihat bahwa di atas kamar mandi ada mushalla. Waktu itu kebetulan dia berkunjung ke rumah sahabatnya, KH. Saifuddin Zuhri di Sokaraja, Banyumas.

"Kami telah menyiapkan kamar buat Gus Wahid," kata tuan rumah Saifuddin Zuhri.

"Tak apa. Mushalla berbentuk panggung seperti ini mempunyai sirkulasi udara yang baik. Biasanya tidak banyak nyamuk. Kalau toh ada nyamuknya ya biar saja. Anggap saja kita bersedekah sedikit dengan darah kita kepada nyamuk-nyamuk itu," jawabnya.

Dia memang terkenal memiliki cita rasa humor yang tinggi. Kepada siapa saja dia biasa melemparkan joke-joke segar, untuk mencairkan suasana sehingga komunikasi bisa berjalan lancar dan akrab. Kepada sopirnya hal yang sama juga berlaku.

"Wah ini ikan gurame, Rasyad!" serunya kepada sopirnya yang bernama Rasyad. "Ente tahu, orang yang suka makan gurame otaknya akan bertambah cerdas. Percaya apa tidak?" ujar KH. Abdul Wahid Hasyim.

"Saya percaya. Tentu saja menjadi cerdas karena orang selalu berpikir, bagaimana mendapatkan uang agar bisa makan ikan gurame setiap hari...," jawab Rasyad setengah berseloroh. Serentak meledaklah tawa mereka. Mereka setuju karena ikan gurame dikenal lezat.


Wa mal hayatud dunya illa mata'ul ghurur

Sewaktu terjadi perombakan kabinet dan nama Wahid Hasyim tidak tercantum lagi dalam daftar nama anggota kabinet baru, beberapa orang tampak kecewa. Padahal yang bersangkutan cuek saja. Ketika mereka bertemu dengan KH. Abdul Wahid Hasyim, kekecewaan itu langsung ditumpahkan kepadanya.

"Kami merasa kecewa karena Gus Wahid tidak duduk lagi di kabinet," kata H. Azhari.

"Tak usah kecewa. Saya toh masih bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang. Tinggal pilih saja," jawab KH. Abdul Wahid Hasyim sekenanya sehingga mengundang tawa yang hadir.

"Tapi kami tetap menyesal karena pemimpin kita tidak dipakai oleh pemerintah...," ujar H. Ichwan.

"Kalau tidak dipakai oleh negara, biarlah saya pakai sendiri...," sekali lagi KH. Abdul Wahid Hasyim menjawab dengan santai dan penuh humor. Suara tawa kembali meledak.

"Kenapa ya, menjadi menteri kok cuma sebentar?" tanya H. Azhari masih penasaran.

"Lho, kalau kita mengantarkan jenazah ke kuburan, pembaca talqin itu kan selalu mengingatkan kita, "Wa mal hayatud-dunya illa mata'ul ghurur". Memangnya orang menjadi menteri untuk selamanya?" jawab KH. Abdul Wahid Hasyim. Kali ini dengan nada sedikit serius, menggunakan i'tibar yang pas.

Pada tahun 1939 NU masuk menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam. Setelah masuknya NU ke dalam federasi ini, dilakukan reorganisasi dan saat itulah KH. Abdul Wahid Hasyim, wakil NU terpilih menjadi ketua MIAI.

Selaku pimpinan Masyumi, Wahid Hasyim merintis pembentukan Hizbullah sebagai sayap "militer" yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan. Rencana pembentukan Hizbullah semula hampir urung. Banyak pihak yang mencurigai kehadirannya dalam membantu Perang Asia Timur Raya. Tapi KH. Abdul Wahid Hasyim, atas nama pimpinan Masyumi waktu itu, terus gigih memperjuangkan pembentukan Hizbullah hingga akhirnya berhasil.

Ketika Jepang masuk, KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia. Selain mengadakan gerakan politik di kalangan umat Islam, melalui Majelis ini Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Tahun 1944 dia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhannya ditangani oleh KH. A. Kahar Muzakkir.

Perhatiannya kepada dunia pendidikan sangat besar. Sewaktu menjadi Menteri Agama pada tahun 1950 Wahid Hasyim mengeluarkan peraturan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN itu.

Dalam sebuah kesempatan pidato di depan majelis pengajian NU di Banyumas, KH. Abdul Wahid menceritakan ihwal keluarnya KH. Hasyim Asy'ari dari tahanan Jepang. Menurut Abdul Wahid, banyak orang dengki dan tukang fitnah berusaha menyusahkan NU dan menyengsarakan Hadhratusysyaikh. Karena Allah menghendaki lain, maka sia-sialah usaha mereka. Malahan kini, sekeluarnya Hadhratusysyaikh dari tahanan, beliau diberi kompensasi oleh Pemerintah Jepang untuk menjabat Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Ini merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam.

Mendapat tawaran itu KH. Hasyim Asy'ari menerima dengan catatan, mengingat usia yang sudah uzur dan dia harus mengasuh pesantren sehingga tidak mungkin kalau harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, dia mengusulkan agar tugasnya sebagai Shumubucho diserahkan kepada Abdul Wahid Hasyim, puteranya.

Taktik ini sengaja dilakukan KH. Hasyim Asy'ari untuk menghindari jangan sampai Nippon tersinggung atau menjadi curiga terhadap KH. Hasyim Asy'ari. Memang serba sulit posisi waktu itu. Jika tawaran ini diterima, kemungkinan akan menimbulkan fitnah, disamping kenyataannya usianya sudah uzur. Jika ditolak, jelas akan mendatangkan kecurigaan di pihak Nippon.

Keputusan KH. Hasyim Asy'ari ternyata merupakan sebuah sikap yang sangat brilian dan memiliki implikasi jauh sekali. Dengan keputusan itu, keinginan Jepang terpenuhi sehingga tidak menimbulkan kecurigaan politik. Selain itu, rupanya secara tidak langsung KH. Hasyim Asy'ari juga sedang melakukan kaderisasi kepemimpinan level nasional kepada Abdul Wahid Hasyim. Melalui proses inilah mulai terlihat kelas kepemimpinan Abdul Wahid Hasyim yang sesungguhnya.

Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim, sebenarnya dengan keputusan seperti itu ayahnya ingin memberi contoh keteladanan kepada generasi muda bahwa pengertian bijaksana bukanlah menjatuhkan pilihan terhadap sesuatu yang benar dan yang salah, atau terhadap sesuatu yang baik dan yang buruk. Bijaksana adalah kemampuan seseorang menjatuhkan pilihan antara dua perkara yang sama-sama salah atau sama-sama buruk, tetapi kondisi mengharuskan untuk memilih salah satunya.

Dalam kesempatan itu dia menjelaskan panjang lebar kisah penahanan Hadhratusysyaikh dan politik kompensasi yang dijalankan Jepang. Insya Allah dalam waktu tidak lama lagi banyak kyai yang akan menduduki Kepala Jawatan Agama di daerah-daerah. "Mudah-mudahan Jawatan Agama itu tidak menjurus menjadi Jowo tan Agomo, Jawa tanpa agama," ujar KH. Wahid Hasyim berseloroh.


Tokoh Termuda

Karier Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan penting dia sandang, baik di kepengurusan NU maupun Masyumi. Bahkan ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal BPUKI, Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bitoro, dari 62 orang yang ada. Waktu itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun. Sebagai tokoh muda, dia juga diangkat menjadi penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dia juga merupakan tokoh termuda dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Djakarta, sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara.

Di dalam kabinet pertama, dibentuk Presiden Sukarno pada September 1945, Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Abdul Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946.

Setelah terjadi penyerahan kedaulatan dan berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir dan Kabinet Sukiman.

Pada 1 Mei 1952, dalam muktamarnya di Palembang NU memutuskan keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik sendiri. Sesudah keluarnya NU dari Masyumi, KH. Wahid Hasyim menulis sepucuk surat kepada PB Masyumi yang menyatakan alasan betapa pentingnya Masyumi mengubah struktur organisasi menjadi sebuah badan federasi. Dengan struktur demikian, semua organisasi yang berdasarkan Islam dapat menjadi anggotanya dan dapat dipersatukan kembali potensi umat Islam dalam melakukan perjuangan. Seruan itu ternyata tidak ditanggapi pihak Masyumi. Kemudian Wahid Hasyim menyampaikan gagasan pembentukan badan federasi itu kepada Partai Sarikat Islam Indonesia dan Partai Perti (Pergerakan Tarbiyah Islamiyah) dan ternyata disambut positif.

Dalam rapat badan persiapan, disetujui federasi itu dinamakan Liga Muslimin Indonesia. Peresmiannya dilakukan di serambi Gedung Parlemen Pejambon (kini Gedung Deplu) pada 30 Agustus 1952, bertepatan dengan Hari Wukuf di Arafah pada musim haji tahun itu. Menurut anggaran dasarnya, federasi ini dibentuk untuk mewujudkan masyatakat Islamiyah yang sesuai dengan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah. Untuk mewujudkan tujuan itu, federasi ini berusaha mengatur rencana bersama mengenai langkah- langkah besar bagi kepentingan umat Islam di Indonesia dalam segala lapangan kehidupan.

Selama menjadi Menteri Agama, KH. Abdul Wahid Hasyim melihat tanda- tanda munculnya sikap manja di kalangan umat Islam, suatu sikap yang sangat tidak disuka olehnya. Umat Islam sering terlalu mengandalkan support dari para pejabat yang beragama Islam, terutama Menteri Agama. Sikap ini lambat laun dinilai Wahid Hasyim melahirkan menurunnya semangat berusaha dan kurangnya rasa percaya diri. Merasa punya menteri yang bisa diminta bantuan apa pun terutama bantuan materi, dalam banyak hal umat Islam menjadi manja. Memang ini dirasakan cukup dilematis. Jika kebutuhan umat Islam tidak dipenuhi, akan menimbulkan perasaan tidak senang dari kalangan Islam. Apalagi secara objektif kondisinya memang perlu dibantu. Tetapi bila setiap kebutuhan terus-menerus dipenuhi, dikhawatirkan menimbulkan sikap manja dan melemahnya semangat kemandirian.

Pada suatu waktu, KH. Abdul Wahid Hasyim mengeluhkan kondisi itu kepada KH. Saifuddin Zuhri. "Apa saya tidak salah memberikan bantuan keuangan kepada umat ini?" ujar Wahid Hasyim dengan nada bertanya. Kenapa?

"Sejak dahulu umat Islam tidak pernah mendapat bantuan material atau moral dari Pemerintah Hindia Belanda. Umat memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang demikian besar. Dengan kemampuan sendiri, dengan semangat gotong-royong, mereka mendirikan masjid, madrasah, pesantren dan bangunan untuk kepentingan agama lainnya. Tapi kini setelah merasakan bantuan Departemen Agama, mereka menjadi manja," katanya.

"Kan sudah selayaknya Departemen Agama membantu umat Islam, umat yang serba terbelakang," kata KH. Saifuddin Zuhri menimpali.

"Membantu memang harus, tetapi kalau menyebabkan manja?" tuturnya setengah uring-uringan.

Tak mau kalah, Saifuddin Zuhri balik bertanya, "Lha, yang selama ini membantu siapa? Kan sampeyan sendiri Menteri Agama pertama yang melakukan kebijaksanaan memberikan bantuan....."

"Thayyib, benar, memang saya akui. Sebab itu tadi saya menanyakan kepada ente, apa saya tidak salah memberikan bantuan keuangan kepada umat Islam. Pertanyaan saya itu seperti zelf-correctie, kritik diri," ujarnya.


Musibah di Cimindi

Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, Abdul Wahid Hasyim ditemani seorang sopir dari harian Pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslimin dan putera sulungnya, Abdurrahman Ad-Dakhil. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.

Daerah di sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00 ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iringan-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan kerasnya. Ketika terjadi benturan, Abdul Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening dan mata, serta pipi dan bagian lehernya. Sedangkan sang sopir dan Abdurrahman tidak cedera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih berjalan seperti semula.

Lokasi terjadinya kecelakaan ini memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pada pukul 16.00 datang mobil ambulans untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah SWT. dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00 Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.

Musibah ini tentu mengejutkan masyarakat. Jenazahnya dibawa ke Jakarta dan setelah disemayamkan sejenak, lalu diterbangkan ke Surabaya. Selanjutnya dibawa ke Jombang untuk dimakamkan di Pesantren Tebuireng. Banyak yang menyesalkan kyai berusia muda dan merupakan tokoh nasional itu begitu cepat dipanggil menghadap Sang Khalik. Tetapi, itulah kehendak Tuhan.

Jika pada umumnya kematangan prestasi dan karier seseorang baru dimulai pada usia 40, KH. Wahid Hasyim justru telah merengkuhnya pada usia di bawah itu. Orang menilai kematian itu teramat cepat datangnya, secepat Wahid Hasyim meraih prestasi. Karena itu, melihat kepemimpinan dan prestasi yang diraih Wahid Hasyim dalam usia mudanya, sering muncul pengandaian dari masyarakat, "...seandainya KH. Wahid Hasyim dikaruniai usia yang lebih panjang, tidak mustahil..."


Dari "KARISMA ULAMA, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU", Editor: Saifullah Ma'shum, Penerbit: Yayasan Saefuddin Zuhri dan Penerbit MIZAN

Sumber : pratikno.ananto@gmail.com


Selengkapnya....

KH. Abdul Hamid, Pasuruan - Jawa Timur


Orang mengenal Kiai Hamid karena beliau dikenal sebagai seorang wali. Dan orang mengatakan wali – biasanya – hanya karena keanehan seseorang. Tidak banyak yang tahu tentang sejatinya beliau. Nah ! Dalam rangka memperingati haulnya pada bulan Mei ini kami turunkan sekelumit tentang beliau.

Seperti halnya orang mengenal Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani sebagai sultanul auliya’, tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya Syekh Abdul Qodir adalah menguasai 12 disiplin ilmu. Beliau mengajar ilmu qiraah, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, ushul fiqh, fiqh dll. Beliau sendiri berfatwa menurut madzhab Syafi’I dan Hanbali. Juga Sahabat Umar bin Khattab, orang hanya mengenal sebagai Khalifah kedua dan Panglima perang. Padahal beliau juga wali besar. Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar Masjid di Madinah dan pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah minta tumbal manusia, hingga nurut sampai sekarang.

KH. Abdul hamid Lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Beliau Wafat Tanggal 25 Desember 1985.


Pendidikan
  • Pesantren Talangsari, ]ember, Jawa Timur
  • Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah
  • Pesantren Termas, Pacitan, Jatim


Pengabdian

Pengasuh Pesantren Salafiyah, Pasuruan, Jatim


Riwayat

Angin bergerak perlahan. Hening. Jam menunjuk pukul 01.00 lebih. Warga Pesantren Salafiyah, Pasuruan, dan sekitarnya lelap tidur nyenyak.

Krosak! Tiba-tiba suara daun terlanggar batu menyeruak keheningan. Sejurus kemudian terdengar lagi suara itu yang kedua dan ketiga kali. “Faisal, hari sudah malam. Waktunya tidur,” terdengar teguran halus dari arah belakang pelempar batu itu. Faisal (bukan nama sebenarnya), santri Salafiyah yang terkenal badung itu tidak menyahut. Ia yakin, itu suara anak santri lain yang ingin menggodanya, dengan meniru suara Kiai Hamid.

Faisal memungut batu lagi dan melempar pohon mangga di depan rumah pengasuh pesantrennya itu. “Faisal, hari sudah malam, waktunya tidur,” terdengar suara lembut lagi dari arah belakang anak yang suka melucu itu. Begitu lembut, selembut semilir angin tengah malam. “Sudahlah, kau tak usah usil. Aku tahu siapa kau,” sergah Faisal sambil melempar lagi. Lagi-lagi lemparannya luput. Ia semakin tidak sabaran melihat buah mangga yang ranum itu.

“Faisal, hari sudah malam. Ayo tidur, tidur.” Suara itu masih halus, tanpa emosi.

“Kurang ajar,” umpat Faisal. Kesabarannya sudah habis. Ini keterlaluan, pikirnya. Dengan geram, ia menghampiri arah datangnya suara tersebut. Entah apa yang ingin dilakukannya terhadap orang yang dianggapnya meniru seperti Kiai Hamid itu. Ia tidak dapat segera mengenali, siapa santri yang berlagak seperti Kiai Hamid di depan rumah kiai yang sangat disegani itu. Maklum, semua lampu di teras rumah itu sudah dipadamkan sejak pukul 21.00. Mendadak mukanya pucat ketika jarak dengan orang tersebut tinggal 1-2 meter.

Tubuhnya bergetar demi mengetahui orang yang telah diumpatinya tadi benar benar Kiai Hamid. Faisal pun menunduk segan. “Sudah malam, ya. Sekarang waktunya tidur,” ujar Kiai, Hamid, masih tetap lembut, namun penuh wibawa. “Inggih (iya),” jawab Faisal pendek, sambil ngeloyor pergi ke kamarnya. Faisal bukan satu-satunya santri yang suka mencuri mangga milik kiai.

Cerita seperti itu sudah menjadi semacam model khas kenakalan santri di pesantren. Faisal juga bukan satu-satunya anak santri Salafiyah yang merasakan kesabaran Kiai Hamid. Kesabarannya memang diakui tidak hanya oleh para santri, tapi juga oleh keluarga dan masyarakat serta umat islam yang pernah mengenalnya. Sangat jarang ia marah, baik kepada santri maupun kepada anak dan istrinya. Kesabaran Kiai Hamid di hari tua, khususnya setelah menikah, sebenarnya kontras dengan sifat kerasnya di masa muda.

“Kiai Hamid dulu sangat keras,” kata Kiai Hasan Abdillah. Kiai Hamid lahir di Sumber Girang, sebuah desa di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1333 H. Ia adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara, lima di antaranya saudara seibu. Kini, di antara ke 12 saudara kandungnya, tinggal dua orang yang masih hidup, yaitu Kiai Abdur Rahim, Lasem, dan Halimah. Sedang dari lima saudara seibunya, tiga orang masih hidup, yaitu Marhamah, Maimanah dan Nashriyah, ketiganya di Pasuruan.

Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya, Kiai umar, adaiah seorang ulama di Lasem, dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq, juga ulama di Lasem dan meninggal di Jember, Jawa Timur.

Kiai Shiddiq adalah ayah KH. Machfudz Shiddiq, tokoh NU, dan KH. Ahmad Shiddiq, mantan Ro’is Am NU. Keluarga Hamid memang memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan dunia pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, Hamid sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai. Anak keempat itu mula-mula belajar membaca al-Quran dari ayahnya. Pada umur sembilan tahun, ayahnya mulai mengajarinya ilmu fiqh dasar.

Tiga tahun kemudian, cucu kesayangan itu mulai pisah dari orangtua, untuk menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari, Jember, Jawa Timur. Konon, demikian penuturan Kiai Hasan Abdillah, Kiai Hamid sangat disayang baik oleh ayah maupun kakeknya. Semasih kecil, sudah tampak tanda-tanda bahwa ia bakal menjadi wali dan ulama besar.

“Pada usia enam tahun, ia sudah bertemu dengan Rasulullah,” katanya. Dalam kepercayaan yang berkembang di kalangan warga NU, khususnya kaum sufi, Rasulullah walau telah wafat sekali waktu menemui orang-orang tertentu, khususnya para wali. Bukan dalam mimpi saja, tapi secara nyata.

Pertemuan dengan Rasul menjadi semacam legitimasi bagi kewalian seseorang. Kiai Hamid mulai mengaji fiqh dari ayahnya dan para ulama di Lasem. Pada usia 12 tahun, ia mulai berkelana. Mula-mula ia belajar di pesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari, Jember. Tiga tahun kemudian ia diajak kakeknya untuk pergi haji yang pertama kali bersama keluarga, paman-paman serta bibi-bibinya. Tak lama kemudian dia pindah ke pesantren di Kasingan, Rembang. Di desa itu dan desa-desa sekitarnya, ia belajar fiqh, hadits, tafsir dan lain lain. Pada usia 18 tahun, ia pindah lagi ke Termas, Pacitan, Jawa Timur.

Konon, seperti dituturkan anak bungsunya yang kini menggantikannya sebagai pengasuh Pesantren Salafiyah, H. Idris, “Pesantren itu sudah cukup maju untuk ukuran zamannya, dengan administrasi yang cukup rapi. Pesantren yang diasuh Kiai Dimyathi itu telah melahirkan banyak ulama terkemuka, antara lain KH Ali Ma’shum, mantan Ro’is Am NU.” Menurut Idris, inilah pesantren yang telah banyak berperan dalam pembentukan bobot keilmuan Hamid. Di sini ia juga belajar berbagai ilmu keislaman. Sepulang dari pesantren itu, ia tinggal di Pasuruan, bersama orangtuanya. Di sini pun semangat keilmuannya tak pernah Padam. Dengan tekun, setiap hari ia mengikuti pengajian Habib Ja’far, ulama besar di Pasuruan saat itu, tentang ilmu tasawwuf.


Menjadi Blantik

Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H. Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak, satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu H. Nu’man, H. Nasikh dan H. Idris.

Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari ia mengayuh sepeda sejauh 30 km pulang pergi, sebagai blantik (broker) sepeda. Sebab, kata ldris, pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong, Pasuruan, 30 km ke arah barat Kotamadya Pasuruan.

Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan, Nafisah yang dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut (tidak mau akur). Namun ia menghadapinya dengan tabah. Kematian bayi pertama, Anas, telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu.

Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu gundah, sehingga Hamid merasa perlu mengajak istrinya itu ke Bali, sebagai pelipur lara. Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelah bayinya yang kedua, Zainab, meninggal dunia pula, padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat lain. KH. Hasan Abdillah, adik istri Kiai Hamid, menuturkan, seperti layaknya keluarga, Kiai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun.

Tapi, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang mengetanuinya. “Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga, ndak endang munggah derajate (Orangtua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik derajatnya)”, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan.

Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menut Idris, tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya. Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sangat prinsip, shalat misalnya, Hamid sangat tegas.

Merupakan keharusan bagi anak-anaknya untuk bangun pada saat fajar menyingsing, guna menunaikan shalat subuh, meski seringkali orang lain yang disuruh membangunkan mereka, Hamid juga memberi pengajaran membaca al-Quran dan fiqih pada anak-anaknya di masa kecil. Namun, begitu mereka menginjak remaja, Hamid lebih suka menyerahkan anak-anaknya ke pesantren lain.

Bukan hanya kepada anak-anak, tapi juga istrinya, Hamid memberi pengajaran. Waktunya tidak pasti. Kitab yang diajarkan pun tidak pasti. Bahkan, ia mengajar tidak secara berurutan dari bab satu ke bab berikutnya. Pendeknya, ia seperti asal comot kitab, lalu dibuka, dan diajarkan pada istrinya. Dan lebih banyak, kata Idris, yang diajarkan adalah kitab-kitab mengenai akhlak, seperti Bidayah al-Hidayah karya Imam Ghazali, “Tampaknya yang lebih ditekankan adalah amalan, dan bukan ilmunya itu sendiri,” jelasnya.

Amalan dari kitab itu pula yang ditekankan Kiai Hamid di Pesantren salafiyah. Kalau pesantren-pesantren tertentu dikenal dengan spesialisasinya dalam bidang-bidang ilmu tertentu – misainya alat (gramatika bahasa Arab) atau fiqh, maka salafiyah menonjol sebagai suatu lembaga untuk mencetak perilaku seorang santri yang baik.

Di sini, Kiai Hamid mewajibkan para santrinya shalat berjamaah lima waktu. Sementara jadwal kegiatan pesantren lebih banyak diisi dengan kegiatan wirid yang hampir memenuhi jam aktif. Semuanya harus diikuti oleh seluruh santri. Kiai Hamid sendiri, tidak banyak mengajar, kecuali kepada santri-santri tertentu yang dipilihnya sendiri. Selain itu, khususnya di masa-masa akhir kehidupannya, ia hanya mengajar seminggu sekali, untuk umum.

Mushalla pesantren dan pelatarannya setiap Ahad selalu penuh oleh pengunjung untuk mengikuti pengajian selepas salat subuh ini. Mereka tidak hanya datang dari Pasuruan, tapi juga kota-kota Malang, Jember, bahkan Banyuwangi, termasuk Walikota Malang waktu itu. Yang diajarkan adalah kitab Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali. Konon, dalam setiap pengajian, ia hanya membaca beberapa baris dari kitab itu.

Selebihnya adalah cerita-cerita tentang ulama-ulama masa lalu sebagai teladan. Tak jarang, air matanya mengucur deras ketika bercerita. Disuguhi Kulit Roti Kiai Hamid memang sosok ulama sufi, pengagum imam Al-Ghazali dengan kitab-kitabnya lhya ‘Ulum ad-Din dan Bidayah al-Hidayah. Tapi, corak kesufian Kiai Hamid bukanlah yang menolak dunia sama sekali. Ia, konon, memang selalu menolak diberi mobil Mercedez, tapi ia mau menumpanginya. Bangunan rumah dan perabotan-perabotannya cukup baik, meski tidak terkesan mewah.

Ia suka berpakaian dan bersorban yang serba putih. Cara berpakaian maupun penampilannya selalu terlihat rapi, tidak kedodoran. Pilihan pakaian yang dipakai juga tidak bisa dibilang berkualitas rendah. “Berpakaianlah yang rapi dan baik. Biar saja kamu di sangka orang kaya. Siapa tahu anggapan itu merupakan doa bagimu,” katanya suatu kali kepada seorang santrinya. Namun, Kiai Hamid bukanlah orang yang suka mengumbar nafsu. Justru, kata idris, ia selalu berusaha melawan nafsu.

Hasan Abdillah bercerita, suatu kali Hamid berniat untuk mengekang nafsunya dengan tidak makan nasi (tirakat). Tetapi, istrinya tidak tahu itu. Kepadanya lalu disuguhkan roti. Untuk menyenangkannya, Hamid memakan roti itu, tapi tidak semuanya, melainkan kulitnya saja. “O, rupanya dia suka kulit roti,” pikir istrinya. Esoknya ia membeli roti dalam jumlah yang cukup besar, lalu menyuguhkan kepada suaminya kulitnya saja. Kiai Hamid tertawa. “Aku bukan penggemar kulit roti. Kalau aku memakannya kemarin, itu karena aku bertirakat,” ujarnya.

Konon, berkali-kali Kiai Hamid ditawari mobil Mercedez oleh H. Abdul Hamid, orang kaya di Malang. Tapi, ia selalu menolaknya dengan halus. Dan untuk tidak membuatnya kecewa, Hamid mengatakan, ia akan menghubunginya sewaktu-waktu membutuhkan mobil itu. Kiai Hamid memang selalu berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain, suatu sikap yang terbentuk dari ajaran idkhalus surur (menyenangkan orang lain) seperti dianjurkan Nabi.

Misalnya, jika bertamu dan sedang berpuasa sunnah, ia selalu dapat menyembunyikannya kepada tuan rumah, sehingga ia tidak merasa kecewa. Selain itu, ia selalu mendatangi undangan, di manapun dan oleh siapapun.

Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus surur, sikap sosial Kiai Hamid terbentuk oleh suatu ajaran (yang dipahami secara sederhana) mengenai kepedulian sosial islam terhadap kaum dlu’afa yang diwujudkan dalam bentuk pemberian sedekah. Memang karikaturis – meminjam istilah Abdurrahman Wahid tentang sifatnya.

Tapi, Kiai Hamid memang bukan seorang ahli ekonomi yang berpikir secara lebih makro. Walau begitu, kita dapat memperkirakan, sikap sosial Kiai Hamid bukan hanya sekadar refleksi dari motivasi keagamaan yang “egoistis”, dalam arti hanya untuk mendapat pahala, dan kemudian merasa lepas dari kewajiban. Kita mungkin dapat melihat, betapa ajaran sosial islam itu sudah membentuk tanggung jawab sosial dalam dirinya meski tidak tuntas.

Ajaran Islam, tanggung jawab sosial mula-mula harus diterapkan kepada keluarga terdekat, kemudian tetangga paling dekat dan seterusnya. Urut-urutan prioritas demikian tampak pada Kiai Hamid. Kepada tetangga terdekat yang tidak mampu, konon ia juga memberikan bantuannya secara rutin, terutama bila mereka sedang mempunyai hajat, apakah itu untuk mengawinkan atau mengkhitan anaknya.

H. Misykat yang mengabdi padanya hingga ia meninggal, bercerita bahwa bila ada tetangga yang sedang punya hajat, Kiai Hamid memberi uang RP. 10.000 plus 10 kg. beras. Islam mengajarkan, hari raya merupakan hari di mana umat Islam dianjurkan bergembira sebagai rasa syukur setelah menunaikan lbadah puasa sebulan penuh. Menjelang hari raya, sebagai layaknya seorang ulama, Kiai Hamid tidak menerima hadiah dan zakat fitri.

Tetapi, ia juga sibuk membaginya kembali kepada handai tolan dan tetangga terdekat. Menurut H. Misykat, jumlah hadiah – berupa beras dan sarung – untuk tetangga dekat setiap tahun tergantung yang dipunyainya dari pemberian orang lain. Tapi yang pasti, jumlahnya tak pernah kurang dari 313 buah. Ini adalah jumlah para pengikut perang Badr (pecah di bulan Ramadhan antara Nabi dan orang Kafir). Penelusuran lebih jauh akan menyimpulkan, perhatian terhadap orang lain merupakan ciri dari sikap sosialnya yang kuat.

Bahwa semua tindakannya itu tumbuh dari sikap penuh perhatian yang tinggi terhadap orang lain. Sehingga, kata H. M. Hadi, bekas santri dan adik iparnya, “Semua orang merasa paling disayang oleh Kiai Hamid.” Setiap pagi, mulai pukul 03.00, ia suka berjalan kaki berkeliling ke Mushalla-mushalla hingga sejauh 1-2 km. untuk membangunkan orang-orang – biasanya anak-anak muda – yang tidur di tempat-tempat ibadah itu. Di samping itu, beberapa rumah tak luput dari perhatiannya sehingga membuat tuan rumah tergopoh-gopoh demi mengetahui bahwa orang yang mengetuk pintu menjelang subuh itu adalah Kiai Hamid yang sangat diseganinya. Sikapnya yang kebapakan itulah yang membuat semua orang mengenalnya secara dekat merasa kehilangan ketika ia wafat.

Ia selalu dengan penuh perhatian mendengarkan keluhan dan masalah orang lain, dan terkadang melalui perlambang-perlambang, memberi pemecahan terhadapnya. Tak cuma itu. Ia sering memaksa orang untuk bercerita mengenai yang menjadi masalahnya. “Ceritakan kepada saya apa yang membuatmu gundah,” desaknya kepada H. A. Shobih Ubaid, meski telah berkali-kali mengatakan tidak ada apa-apa. Dan, akhirnya setelah dibimbing ke kamar di rumahnya, Shobih dengan menangis menceritakan masalah keluarga yang selama ini mengganjal di hatinya.

Di saat lain, orang lain terpaksa bercerita bahwa ia masih kekurangan uang menghadapi perkawinan anaknya, setelah didesak oleh Kiai Hamid. Kiai Hamid lalu memberinya uang Rp 200.000. Pemberian uang untuk maksud-maksud baik ini memang sudah bukan rahasia lagi. Selain sering dihajikan orang lain, sudah puluhan pula orang yang telah naik haji atas biayanya, baik penuh maupun sebagiannya saja.

Lebih dari itu, tak kurang 300 masjid yang telah berdiri atau direnovasi atas prakarsa serta topangan biayanya. Menurut H. Misykat, kegiatan seperti ini kian menggebu menjelang ia wafat. Ia memprakarsai renovasi terhadap beberapa mushalla di dekat rumahnya yang selama ini tak pernah terjamah perbaikan. Untuk itu, di samping mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri, ia memberi wewenang kepada masing-masing panitia untuk mempergunakan namanya dalam mencari sumbangan.

Kepeloporan, kebapakan dan sikap sosialnya yang dicirikan dengan komitmen Idkhalus surur dan kepedulian sosial dalam bentuknva yang sederhana dengan corak religius yang kuat merupakan watak kepemimpinannya. Tapi, lebih dari itu, kepemimpinan yang tidak menonjolkan diri, dan dalam banyak hal, bahkan berusaha menyembunyikan diri, ternyata cukup efektif dalam kasus Kiai Hamid. Kiai Hamid yang suaranya begitu lirih itu tidak pernah berpidato di depan umum: Tapi di situlah, khususnya untuk masyarakat Pasuruan dan sebagian besar Jawa Timur yang sudah terlanjur mengaguminya itu, terletak kekuatan Kiai Hamid.

Konon, kepemimpinan Kiai Hamid sudah mulai tampak selama menuntut ilmu di Pesantren Termas. Ia sudah berganti nama sebanyak dua kali. Ia lahir dengan nama Mu’thi, lalu berganti dengan nama Abdul Hamid setelah haji yang pertama. Kemudian, tanpa sengaja, mertuanya, KH Ahmad Qusyairi, memanggilnya dengan Hamid saja. “Nama saya memang Hamid saja, Bah (Ayah),” katanya, seperti tidak ingin mengecewakan mertuanya itu. Diantara karyanya, antara lain, Nadzam Sulam Taufiq, yaitu menyairkan kitab terkenal di pondok pesantren, Sulam Taufiq. Sebuah kitab yang berisi akidah, syari’ah, akhlaq dan tasawuf. Sedangkan Thariqah beliau adalah Syadziliyah. Menurut beberapa sumber ada yang mengatakan mengambil thariqah dari KH. Mustaqiem Husein, ada sumber lain menyebutkan dari Syeikh Abdurrazaq Termas.


Orang Alim

Biasanya orang yang terkenal dengan kewaliannya hanya dipandang dari kenyentrikannya saja. Tapi tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau dipandang orang bukan hanya dari kenylenehannya, tapi dari segi keilmuannya, beliau juga sangat dikagumi banyak kiai. Karena, memang sejak dari pesantren beliau sudah terkenal menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu kanoragan, ketabiban, fiqih, sampai ilmu Arudl beliau sangat menguasai. Terbukti beliau juga menyusun syi’iran.

Karena kedalaman ilmunya itu, masyarakat meminta beliau menyediakan waktu untuk mengaji. Akhirnya beliau menyediakan waktu Ahad pagi selepas subuh. Adapun kitab yang dibaca kitab-kitab tasawwuf, mulai dari yang kecil seperti kitab Bidayatul Hidayah, Salalimul Fudlala’ dan kemudian dilanjutkan kitab Ihya’.

Didalam mendidik atau mengajar, Kiai Hamid mempunyai falsafah yang beranjak dari keyakinan tentang sunnatullah, hukum alam. Ketika ada seorang guru mengadu bahwa banyak murid-muridnya yang nilainya merah. Beliau lalu memberi nasehat dengan falsafah pohon kelapa. “Bunga Kelapa (manggar) kalau jadi kelapa semua yang tak kuat pohonnya atau buahnya jadi kecil-kecil” katanya menasehati sang guru. “Sudah menjadi sunnatullah,” katanya, bahwa pohon kelapa berbunga (manggar), kena angin rontok, tetapi tetap ada yang berbuah jadi cengkir. Kemudian rontok lagi. Yang tidak rontok jadi degan. Kemudian jadi kelapa. Kadang-kadang sudah jadi kelapa masih dimakan tupai.


Ijazah-ijazah

Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah (wirid) kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain. Diantara ijazah beliau adalah:
  1. Membaca Surat Al-Fatihah 100 kali tiap hari
    Menurutnya, orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali
  2. Membaca Hasbunallah wa ni’mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.
  3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat
  4. Membaca kitab Dala’ilul Khairat. Kitab ini berisi kumpulan shalawat
Dari berbagai sumber

Sumber : pratikno.ananto@gmail.com


Selengkapnya....

Kamis, 01 Juli 2010

KH. Muhammad Kholil, Bangkalan


Hari Selasa, 11 Jumada Al-Tsaniyah 1235 H atau 1820 M. ‘Abd Al-Latif, seorang kiai di Kampung Senenan, desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Ujung Barat Pulau Madura; merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya lahir seorang anak laki-laki yang sehat, yang diberinya nama Muhammad Khalil.

Kiai ‘Abd. Al-Latif sangat berharap agar anaknya di kemudian hari menjadi pemimpin ummat, sebagaimana nenek moyangnya. Seusai meng-adzani telinga kanan dan meng-iqamati telinga kiri sang bayi, Kiai ‘Abdul Latif memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonannya.

K.H. Khalil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, K.H. ‘Abd Al-Latif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah ‘Abd Al-Latif adalah Kiai Hamim, anak dari Kiai ‘Abd Al-Karim. Yang disebut terakhir ini adalah anak dari Kiai Muharram bin Kiai Asra Al-Karamah bin Kiai ‘Abd Allah b. Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati. Maka tak salah kalau Kiai ‘Abd Al-Latif mendambakan anaknya kelak bisa mengikuti jejak Sunan Gunung Jati karena memang dia masih terhitung keturunannya.

Oleh ayahnya, ia dididik dengan sangat ketat. Kholil kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu, sangat luar biasa, bahkan ia sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda. Untuk memenuhi harapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu yang lainnya, maka orang tua Kholil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu.


Belajar ke Pesantren

Mengawali pengembaraannya, sekitar tahun 1850–an, Kholil muda berguru pada Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan Tuban. Dari Langitan, Kholil nyantri di Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Dari sini Kholil pindah lagi ke Pesantren Keboncandi, Pasuruan.
Selama di Keboncandi, Kholil juga belajar kepada Kiai Nur Hasan yang masih terhitung keluarganya di Sidogiri. Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri sekitar 7 Kilometer. Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Khalil rela melakoni perjalanan yang terbilang lumayan jauh itu setiap harinya. Di setiap perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca Surah Yasin; dan ini dilakukannya hingga ia -dalam perjalanannya itu- khatam berkali-kali.

Sebenarnya, bisa saja Kholil tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada Kiai Nur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi dia untuk tetap tinggal di Keboncandi, meskipun Kholil sebenarnya berasal dari keluarga yang dari segi perekonomiannya cukup berada. Ini bisa ditelisik dari hasil yang diperoleh ayahnya dalam bertani. Karena, Kiai ‘Abd Al-Latif, selain mengajar ngaji, ia juga dikenal sebagai petani dengan tanah yang cukup luas, dan dari hasil pertaniannya itu (padi, palawija, hasil kebun, durian, rambutan dan lain-lain), Kiai ‘Abd Al-Latif cukup mampu membiayai Kholil selama nyantri.

Akan tetapi, Khalil tetap saja menjadi orang yang mandiri dan tidak mau merepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di Sidogiri, Khalil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasil menjadi buruh batik inulah Khalil memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Kemandirian Khalil juga nampak ketika ia berkeinginan untuk menimba ilmu ke Mekkah. Karena pada masa itu, belajar ke Mekkah merupakan cita-cita semua santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Khalil tidak menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua orangtuanya.

Kemudian, setelah Khalil memutar otak untuk mencari jalan ke luarnya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi. Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukup luas. Dan selama nyantri di Banyuwangi ini, Khalil nyambi menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Khalil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya, dari situlah Khalil bisa makan gratis.

Akhirnya, pada tahun 1859 M., saat usianya mencapai 24 tahun, Khalil memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Tetapi sebelum berangkat, Khalil menikah dahulu dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih.

Setelah menikah, berangkatlah dia ke Mekkah. Dan memang benar, untuk ongkos pelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon, Khalil berpuasa. Hal tersebut dilakukan Khalil bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar perjalanannya selamat.

Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu itu untuk menyebut orang Indonesia) pada umumnya, Khalil belajar pada para syekh dari berbagai mazhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun kecenderungannya untuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat di sembunyikan. Karena itu, tak heran kalau kemudian dia lebih banyak mengaji kepada para Syekh yang bermazhab Syafi’i.

Kebiasaan hidup prihatinnya pun, diteruskan ketika di Tanah Arab. Konon, selama di Mekkah, Kholil lebih banyak makan kulit buah semangka ketimbang makanan lain yang lebih layak. Realitas ini –bagi teman-temannya, cukup mengherankan. Teman seangkatan Khalil antara lain: Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani. Mereka semua tak habis pikir dengan kebiasaan dan sikap keprihatinan temannya itu.

Padahal, sepengetahuan teman-temannya, Kholil tak pernah memperoleh kiriman dari Tanah Air, tetapi Kholil dikenal pandai dalam mencari uang. Ia, misalnya, dikenal banyak menulis risalah, terutama tentang ibadah, yang kemudian dijual. Selain itu, Kholil juga memanfaatkan kepiawaiannya menulis khat (kaligrafi). Meskipun bisa mencari uang, Kholil lebih senang membiasakan diri hidup prihatin. Kebiasaan memakan kulit buah semangka kemungkinan besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali, salah seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya.

Sepulangnya dari Tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai tahun kepulangannya), Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqih dan Tarekat. Bahkan pada akhirnya, dia-pun dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapat memadukan ke dua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Khalil dapat mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, sekitar 1 Kilometer Barat Laut dari desa kelahirannya.

Dari hari ke hari, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha; pesantren di Desa Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya. Kiai Khalil sendiri mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah Barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak Pesantren yang baru itu, hanya selang 1 Kilometer dari Pesantren lama dan desa kelahirannya.

Di tempat yang baru ini, Kiai Khalil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang Pulau Jawa. Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dari Jombang.

Di sisi lain, Kiai Khalil di samping dikenal sebagai ahli Fiqh dan ilmu Alat (nahwu dan sharaf ), ia juga dikenal sebagai orang yang “waskita,” weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi). Malahan dalam hal yang terakhir ini, nama Kiai Khalil lebih dikenal.


Geo Sosiologi Politik

Pada masa hidup Kiai Khalil, terjadi sebuah penyebaran Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah di daerah Madura. Kiai Khalil sendiri dikenal luas sebagai ahli Tarekat; meski pun tidak ada sumber yang menyebutkan kepada siapa Kiai Khalil belajar Tarekat. Tapi, menurut sumber dari Martin Van Bruinessen (1992), diyakini terdapat sebuah silsilah bahwa Kiai Khalil belajar kepada Kiai ‘Abd Al-Azim dari Bangkalan (salah satu ahli Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah), tetapi, Martin masih ragu, apakah Kiai Khalil penganut Tarekat tersebut atau tidak ?

Masa hidup Kiai Khalil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Tetapi, dengan caranya sendiri Kiai Khalil melakukan perlawanan; pertama, ia melakukannya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang ini, Kiai Khalil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang lahir dari tangannya; salah satu di antaranya: Kiai Hasyim Asy’ari, Pendiri Pesantren Tebuireng.

Cara yang kedua, Kiai Khalil tidak melakukan perlawanan secara terbuka, melainkan ia lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada pejuang, pun Kiai Khalil tidak keberatan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian.

Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Kiai Khalil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Kiai Khalil, malah membuat pusing pihak Belanda; karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri.
Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Kiai Khalil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Kiai Khalil untuk di bebaskan saja.


Kiprahnya Dalam Pembentukan NU

Peran Kiai Khalil dalam melahirkan NU, pada dasarnya tidak dapat diragukan lagi, hal ini didukung dari suksesnya salah satu dari muridnya, K.H. Hasyim Asy’ari, menjadi tokoh dan panutan masyarakat NU. Namun demikian, satu yang perlu digarisbawahi bahwa Kiai Khalil bukanlah tokoh sentral dari NU, karena tokoh tersebut tetap pada K.H. Hasyim sendiri.
Mengulas kembali ringkasan sejarah mengenai pembentukan NU, ini berawal pada tahun 1924, saat di Surabaya terdapat sebuah kelompok diskusi yang bernama Tashwirul Afkar (potret pemikiran), yang didirikan oleh salah seorang kiai muda yang cukup ternama pada waktu itu: Kiai Wahab Hasbullah. Kelompok ini lahir dari kepedulian para ulama terhadap gejolak dan tantangan yang di hadapi umat Islam kala itu, baik mengenai praktik-praktik keagamaan maupun dalm bidang pendidikan dan politik.

Pada perkembangannya kemudian, peserta kelompok diskusi ingin mendirikan Jam’iyah (organisasi) yang ruang lingkupnya lebih besar daripada hanya sebuah kelompok diskusi. Maka, dalam berbagai kesempatan, Kiai Wahab selalu menyosialisasikan ide untuk mendirikan Jam’iyah itu. Dan hal ini tampaknya tidak ada persoalan, sehingga diterima dengan cukup baik ke semua lapisan. Tak terkecuali dari Kiai Hasyim Asy’ari; Kiai yang paling berpengaruh pada saat itu.

Namun, Kiai Hasyim, awalnya, tidak serta-merta menerima dan merestui ide tersebut. Terbilang hari dan bulan, Kiai Hasyim melakukan shalat istikharah untuk memohon petunjuk Allah, namun petunjuk itu tak kunjung datang.

Sementara itu, Kiai Khalil, guru Kiai Hasyim, yang juga guru Kiai Wahab, diam-diam mengamati kondisi itu, dan ternyata ia langsung tanggap, dan meminta seorang santri yang masih terbilang cucunya sendiri, dipanggil untuk menghadap kepadanya.

“Saat ini, Kiai Hasyim sedang resah, antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya.” Kata Kiai Khalil sambil menyerahkan sebuah tongkat. Baik, Kiai.” Jawab Kiai As’ad sambil menerima tongkat itu.

“Bacakanlah kepada Kiai Hasyim ayat-ayat ini: Wama tilka biyaminika ya musa, Qala hiya ‘ashaya atawakka’u ‘alaiha wa abusyyu biha ‘ala ghanami waliya fiha ma’aribu ukhra. Qala alqiha ya musa. Faalqaha faidza hiya hayyatun tas’a. Qala Khudzha wa la takhof sanu’iduha sirathal ula wadhumm yadaka ila janahika takhruj baidha’a min ghiri su’in ayatan ukhra linuriyaka min ayatil kubra.” Pesan Kiai Khalil.

As’ad segera pergi ke Tebuireng, ke kediaman Kiai Hasyim, dan di situlah berdiri pesantren yang diasuh oleh Kiai Hasyim. Mendengar ada utusan Kiai Khalil datang, Kiai Hasyim menduga pasti ada sesuatu, dan ternyata dugaan tersebut benar adanya.

“Kiai, saya diutus Kiai Khalil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini kepada Kiai.” Kata As’ad, pemuda berusia sekitar 27 tahun itu, sambil mengeluarkan sebuah tongkat, dan Kiai Hasyim langsung menerimanya dengan penuh perasaan.

“Ada lagi yang harus kau sampaikan?” Tanya Kiai Hasyim.

“Ada Kiai,” jawab As’ad. Kemudian ia menyampaikan ayat yang disampaikan Kiai Khalil.
Mendengar ayat yang dibacakan As’ad, hati Kiai Hasyim tergetar. Matanya menerawang, terbayang wajah Kiai Khalil yang tua dan bijak. Kiai Hasyim menangkap isyarat, bahwa gurunya tidak keberatan kalau ia dan teman-temannya mendirikan Jam’iyah. Sejak saat itu, keinginan untuk mendirikan Jam’iyah semakin dimatangkan.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, setahun telah berlalu, namun Jam’iyah yang diidamkan itu tak kunjung lahir. Sampai pada suatu hari, pemuda As’ad muncul lagi.

“Kiai, saya diutus oleh Kiai Khalil untuk menyampaikan tasbih ini,” kata As’ad.

“Kiai juga diminta untuk mengamalkan Ya Jabbar, Ya Qahhar (lafadz asma’ul husna) setiap waktu,” tambah As’ad.

Sekali lagi, pesan gurunya diterima dengan penuh perasaan. Kini hatinya semakin mantap untuk mendirikan Jam’iyah. Namun, sampai tak lama setelah itu, Kiai Khalil meninggal, dan keinginan untuk mendirikan Jam’iyah belum juga bisa terwujud.

Baru setahun kemudian, tepatnya 16 Rajab 1344 H., “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Dan di kemudian hari, jabang bayi itu pun menjadi “raksasa”.

Tapi, bagaimana Kiai Hasyim menangkap isyarat adanya restu dari Kiai Khalil untuk mendirikan NU dari sepotong tongkat dan tasbih? Tidak lain dan tak bukan karena tongkat dan tasbih itu diterimanya dari Kiai Khalil, seorang Kiai alim yang diyakini sebagai salah satu Wali Allah.


Tarekat dan Fiqh

Kiai Kholil adalah salah satu Kiai yang belajar lebih daripada satu Madzhab saja. Akan tetapi, di antara Madzhab-mazdhab yang ada, ia lebih mendalami Madzhab Syafi’i di dalam Ilmu Fiqh.
Pada masa kehidupan Kiai Kholil, yaitu akhir abad-19 dan awal abad-20, di daerah Jawa, khususnya Madura, sedang terjadi perdebatan antara dua golongan pada saat itu. Pada awal abad-20, seperti telah diungkapkan sebelumnya, di daerah Jawa sedang terjadi penyebaran ajaran Tarekat Naqsyabandiyah, Qadiriyah wa-Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Muzhariyah dan lain-lain.

Akan tetapi, tidaklah dapat dipungkiri mengenai keterlibatan Kiai Khalil dalam tarekat, terbukti bahwa Kiai Khalil dikenal pertamakali dikarenakan kelebihannya dalam hal tarekat, dab juga memberikan dan mengisi ilmu-ilmu kanuragan kepada para pejuang.

Di sisi lain, Kiai Khalil pun diakui sebagai salah satu Kiai yang dapat menggabungkan tarekat dan Fiqh, yang kebanyakan ulama pada saat itu melihat dua hal tersebut bertentangan seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, salah satu ulama yang notabene seangkatan dengan Kiai Khalil.

Memang, Kiai Khalil hidup pada masa penyebaran tarekat begitu gencar-gencarnya, sehingga kebanyakan ulama pada saat itu, mempunyai dan memilki ilmu-ilmu kanuragan, dan tidak terkecuali Kiai Khalil. Namun demikian, perbedaan antara Kiai Khalil dengan kebanyakan Kiai yang lainnya; bahwa Kiai Khalil tidak sampai mengharamkan atau pun menyebutnya sebagai perlakuan syirik dan bid’ah bagi penganut tarekat. Kiai Khalil justru meletakkan dan menggabungkan antara ke duanya (tarekat dan Fiqh).

Dalam penggabungan dua hal ini, Kiai Khalil menundukkan tarekat di bawah Fiqh, sehingga ajaran-ajaran tarekat mempunyai batasan-batasan tersendiri yaitu fiqh. Selain itu, ajaran tarekat juga tidak menjadi ajaran yang tanpa ada batasannya. Namun, yang cukup disayangkan adalah, tidak banyaknya referensi yang menjelaskan tentang cara atau pun pola-pola dalam penggabungan tarekat dan fiqh oleh Kiai Khalil tersebut.


Peninggalan

Dalam bidang karya, memang hampir tidak ada literatur yang menyebutkan tentang karya Kiai Khalil; akan tetapi Kiai Khalil meninggalkan banyak sejarah dan sesuatu yang tidak tertulis dalam literatur yang baku. Ada pun peninggalan Kiai Khalil diantaranya:

Pertama, Kiai Khalil turut melakukan pengembangan pendidikan pesantren sebagai pendidikan alternatif bagi masyarakat Indonesia. Pada saat penjajahan Belanda, hanya sedikit orang yang dibolehkan belajar, itu pun hanya dari golongan priyayi saja; di luar itu, tidaklah dapat belajar di sekolah. Dari sanalah pendidikan pesantren menjadi jamur di daerah Jawa, dan terhitung sangat banyak santri Kiai Khalil yang setelah lulus, mendirikan pesantren. Seperti Kiai Hasyim (Pendiri Pesantren Tebuireng), Kiai Wahab Hasbullah (Pendiri Pesantren Tambakberas), Kiai Ali Ma’shum (Pendiri Pesantren Lasem Rembang), dan Kiai Bisri Musthafa (Pendiri Pesantren Rembang). Dari murid-murid Kiai Khalil, banyak murid-murid yang dikemudian hari mendirikan pesantren, dan begitu seterusnya sehingga pendidikan pesantren menjadi jamur di Indonesia.

Kedua, selain Pesantren yang Kiai Khalil tinggal di Madura –khususnya, ia juga meninggalkan kader-kader Bangsa dan Islam yang berhasil ia didik, sehingga akhirnya menjadi pemimpin-pemimpin umat.

K.H. Muhammad Khalil, adalah satu fenomena tersendiri. Dia adalah salah seorang tokoh pengembang pesantren di Nusantara. Sebagian besar pengasuh pesantren, memiliki sanad (sambungan) dengan para murid Kiai Khalil, yang tentu saja memiliki kesinambungan dengan Kiai Khalil. Beliau wafat pada 1825 (29 Ramadhan 1343 H) dalam usia yang sangat lanjut, 108 tahun. (Dari berbagai sumber).


Sumber : pratikno.ananto@gmail.com

Selengkapnya....