Cari di Blog ini

Translate

Gunakan Ctrl+F untuk mencari kata dalam halaman ini

Selasa, 10 Agustus 2010

Pengguna Internet Banyak Salah Paham di Tingkat IT Literate

Oleh : Moh Noor Al Azam


Seorang rekan di kota lain suatu saat chatting dengan saya dan meminta tolong saya untuk memindai (scanning) tandatangan saya dan dikirimkan via email kepadanya. Dia membutuhkan tandatangan saya pada sebuah surat dan karena ada di kota lain -sementara surat harus cepat dibuat, maka cara di atas yang dia usulkan. Tentu saja saya tidak berkenan, karena saya tidak memiliki kontrol pada surat tersebut. Terlebih lagi -meski bukan ahlinya, saya yakin cara itu tentu saja tidak sah menurut hukum.

Bukan kasus itu yang ingin saya sampaikan di sini, tetapi tentang alasan rekan saya mengusulkan hal itu. Dia mengatakan: “Bukannya sekarang sudah ada undang-undang no. 11 tahun 2008 tentang ITE atau Informasi dan Transaksi Elektronik?”

Lho... terus apa hubungannya dengan Undang-undang itu? Masih menurut rekan tadi: “Bukannya dengan adanya Undang-undang tersebut berarti sudah disahkan penggunaan tandatangan elektronik?”
“Benar,” jawab saya.
“Terus??”
“Bukannya hasil scanning tandatangan itu kan tandatangan elektronik....” timpal teman di sana.

Waduh.... keluh saya dalam hati. Rekan yang saya tahu dia melek teknologi informasi, biasa menggunakan layanan internet dan bahkan menggunakan internet untuk kegiatan sehari-hari, masih juga menganggap tandatangan yang dipindai itu adalah tandatangan elektronik. Sebenarnya sudah beberapa kali saya menemui kesalahpahaman seperti ini, tapi menurut saya ini yang paling parah berdasarkan tingkat IT literate-nya.


IT Literate

Tidak bisa dipungkiri, memang tingkat penggunaan teknologi informasi di masyarakat Indonesia secara rata-rata sangat jauh berbeda. Ada yang menggunakan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari -bahkan seakan-akan tidak bisa hidup tanpanya, tapi ada pula yang tidak pernah menggunakan dan tetap happy-happy saja.

Tapi ternyata pemahaman tentang teknologi informasi lebih jauh lagi perberbedaannya. Orang yang menggunakan teknologi informasi sehari-hari, mungkin tidak paham dengan istilah atau mungkin tidak mengerti cara menggunakan sebuah teknologi. Contohnya kasus yang saya alami di atas.

Kelihatannya memang masih perlu banyak dilakukan pendidikan masyarakat tentang teknologi informasi. Baik tentang penggunaan teknologinya itu sendiri, maupun tentang istilah-istilah yang digunakan di dalam teknologi informasi. Dan tentu saja hal ini bukan saja tugas dari pemerintah. Tapi tugas semua pihak sebagai stake holder Teknologi Informasi. Pemerintah, swasta, akademisi dan komunitas harus bekerja sama mencerdaskan bangsa.

Mengapa pemahaman teknologi informasi juga harus ditingkatkan?
Karena dengan pemahaman yang kurang, akan menyebabkan efektifitas penggunaan teknologi informasi yang kurang pula. Bahkan pada kasus-kasus tertentu -seperti yang saya alami tersebut, pemahaman yang kurang bisa menyebabkan kesalahan yang fatal.

Coba bayangkan jika teman saya yang bertanya di atas adalah seorang hakim. Sangat fatal bukan?

MOH NOOR AL AZAM,
Branch Manager RADNET Surabaya, juga Koordinator Wilayah APJII Jatim dan aktif di Kelompok Linux Arek Suroboyo.
Email:me@noorazam.web.id

Sumber : suarasurabaya.net


Selengkapnya....

Senin, 09 Agustus 2010

Setting Password Policy Windows Server 2003


Bagi seorang administrator Windows Server 2003, ketika akan menambah user baru yang dapat mengakses shared folder di windows server, mungkin pernah menemui warning error diantaranya : "The password does not meet the password policy requirements. Check the minimum password length, password complexity and password history requirements" (password kurang panjang, password kurang rumit, dsb). Bagaimana cara setting password di windows server 2003 ?

Untuk memodifikasi password policy ada 3 yaitu :
  1. Untuk local computer
  2. Untuk domain dimana kita berada di komputer yang tergabung dengan domain
  3. Untuk domain dimana kita berada di domain controller atau kita berada di komputer server yang mengatur domain tersebut.

Kali ini kita hanya akan membahas yang nomor 3 yaitu kita berada di komputer server untuk melakukan modifikasi password policy yang kita lakukan di komputer server. Kenapa kita pilih nomor 3 untuk dibahas kali ini ? Hal ini karena tujuan utama kita memang untuk menambah user dalam sebuah domain yang tentu saja kita lakukan di komputer server.

Baiklah berikut adalah langkah-langkahnya :
  • Masuk ke Start --- Control Panel --- Administrative Tools --- Active Directory Users and Computers
  • Klik kanan nama domain dan pilih Properties
  • Masuk ke Tab Group Policy
  • Klik sebuah entry yang ada di Group Policy Object Links, kemudian klik Edit
  • Masuk ke Group Policy Object [nama komputer] Policy --- Computer Configuration --- Windows Setting --- Security Settings --- Account Policies --- Password Policy
  • Di panel sebelah kanan ada beberapa pilihan diantaranya : Minimum password length (minimal panjang password), Password must meet complexity requirements (password harus kompleks / rumit), dsb.
  • Misalkan jika kita tidak membutuhkan password yang rumit maka klik kanan pada pilihan Password must meet complexity requirements dan pilih Properties
  • Berikan tanda centang (check) pada pilihan Define this policy setting dan pilih Disabled
  • Klik Apply kemudian klik OK
  • Misalkan kita tidak perlu password yang panjang maka klik kanan pada pilihan Minimum password length dan pilih Properties
  • Berikan tanda centang (check) pada pilihan Define this policy setting dan berikan angka misalkan 2 untuk password minimal 2 karakter
  • Klik Apply kemudian klik OK

Setelah itu barulah kita bisa menambahkan user baru di domain kita dengan password yang biasa-biasa aja....

Demikian sharing dari Sasuke Suyono, semoga bermanfaat.


Selengkapnya....

Jumat, 06 Agustus 2010

Konfigurasi Feedburner Agar Email Tidak Full Posting


Bagi para blogger yang menyediakan layanan langganan email kepada para pembaca blognya pasti tidak asing lagi dengan FeedBurner. Cara Setting untuk pendaftaran FeedBurner tidak saya ulas di sini karena pasti sudah banyak para blogger yang sudah bisa.

Pada tulisan saya kali ini saya ingin sharing tentang cara supaya email yang dikirimkan ke para subscriber blog kita adalah email yang berisi ringkasan (bagian awal posting saja), jadi para subscriber yang tertarik dengan judul ataupun ringkasan awal bisa mengunjungi blog kita melalui email persembahan FeedBurner tersebut.

Hal ini memberikan keuntungan, kenapa ? karena tanpa konfigurasi ini bisa saja para subscriber tidak mengunjungi blog kita karena di dalam email tersebut sudah termuat isi lengkap artikel baru kita.

Dengan hanya menampilkan judul dan sedikit bagian awal tulisan dalam sebuah posting, pasti para subscriber yang membaca dan tertarik dengan judul ataupun ringkasan isi posting kita akan mengklik dan mengunjungi bog ataupun situs kita.

Baiklah, berikut adalah langkah-langkahnya :
  • Masuklah ke akun FeedBurner Anda dan langsung menuju ke bagian subscriber email
  • Selanjutnya masuklah ke tab Optimize
  • Klik Summary Burner
  • Pada kotak Maximum length, masukkan berapa karakter sebagai ringkasan bagian awal dari posting blog anda yang akan dikirim ke email para subscriber
  • Pada kotak Teaser, isikan kata-kata yang menjelaskan bahwa ini hanyalah ringkasan, selengkapnya silakan klik judul di atas
  • Selanjutnya klik tombol Activate
Lebih jelasnya sebagaimana terlihat dari gambar di bawah ini


Demikian, sedikit yang dapat saya sharing, semoga bermanfaat

Selengkapnya....

KH. Asyhari Marzuqi, Yogyakarta


Lahir di Giriloyo pada hari Selasa Kliwon tanggal 10 Nopember 1942 M atau tanggal 1 Dzulqo’dah 1361 H. Tanggal ini oleh H. Asyhari Marzuqi dikira-kira sendiri, karena ayahnya (Mbah Marzuqi) tidak menuliskan tanggal kelahirannya. Beliau hanya berkata pada H. Asyhari Marzuqi, “kamu lahir pada saat Jepang memasuki kota Yogyakarta”.

Tahun 1949, Asyhari Marzuqi masuk ke sekolah SR (Sekolah Rakyat) yang ada di Singosaren Wukirsari. Tapi karena letak sekolahan ini dekat dengan jalan besar yang sewaktu-waktu ada patroli Jepang, akhirnya sekolah itu diungsikan agak ke timur, tepatnya di Giriloyo, sampai kira-kira Asyhari kecil menginjak kelas 2. Kemudian kelas tiganya pindah lagi ke Singosaren, kelas 4 dan 5 dipindahkan lagi ke Puroloyo Imogiri dan kelas 6 nya pindah lagi ke Gestrikan (sekarang ada di timur Puskesmas Imogiri).

Lulus dari SR pada tahun 1955, Asyhari langsung ke Krapyak. Pada saat itu di Krapyak sudah ada pendidikan tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Pendidikan itu jika ditempuh secara normal akan memakan waktu selama 10 tahun, yaitu Ibtidaiyah 4 tahun, Tsanawiyah 3 tahun dan Aliyah 3 tahun. Tapi karena kersane Kiai Ali Maksum (Pengasuh Pondok Krapyak) pendidikan itu oleh H. Asyhari Marzuqi tidak ditempuh selama 10 tahun, karena terkadang dalam satu tahun beliau bisa naik dua kali. Ibtidaiyah di tempuhnya selama 2 tahun, Tasanawiyah 2 tahun dan Aliyah 2 tahun. Pada tahun 1959, ketika H. Asyhari Marzuqi masuk kelas satu Aliyah, oleh mBah Ali Maksum beliau disuruh ikut mengajar adik-adik kelasnya, sehingga pada saat itu beliau kalau pagi mengajar dan sorenya sekolah di Aliyah.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah (1961), beliau ditawari oleh Kiai Ali untuk melanjutkan studinya di Madinah. Bersama Gus Bik (Attabik Ali, putra Kiai Ali), Asyhari ikut mendaftar. Tapi pada saat itu yang berangkat Gus Bik. Tujuh bulan setelah keberadaannya di Madinah ternyata Gus Attabik tidak kerasan, kemudian kembali ke Krapyak. keinginan Kiai Ali supaya H. Asyhari Marzuqi menggantikan Gus Bik pun tidak terlaksana, karena ternyata jatah Gus Bik itu sudah digantikan oleh orang lain. Akhirnya, beliau kembali lagi ke Krapyak untuk mengajar.

Pada suatu hari H. Asyhari Marzuqi datang ke pak Kyai Musaddad yang tempat tinggalnya ada di daerah barat Malioboro. Asyhari mengutarakan keinginan untuk belajar di Timur Tengah. Tetapi oleh beliau, Asyhari disarankan untuk menempuh jalur yang semestinya, “kalau kamu ingin pergi ke Timur tengah, ya harus melewati jalur yang semestinya, masuklah IAIN.” begitu katanya. Atas saran Kyai Musaddad, menjelang GESTAPU (gerakan 30 September oleh PKI), H. Asyhari Marzuqi masuk ke IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Syari’ah jurusan Tafsir Hadits. Dunia pendidikan pada saat itu sedang kacau. Pada saat menjelang Gestapu itu hampir semua sekolahan libur. Sementara di IAIN sendiri sedang terjadi demo besar-besaran terhadap Rektor ( Prof. Soenaryo). Para demonstran itu meminta Rektor untuk mundur dari jabatannya dengan tuduhan bahwa Rektor telah melakukan NU-isasi di lingkungan IAIN. Sehingga dengan adanya dua permasalahan tersebut praktis tidak ada perkuliahan.

Tahun 1968 ketika perkuliahan sudah aktif (H. Asyhari Marzuqi kira-kira semester 7), oleh Prof. Hasbi Asshiddiqi Asyhari Marzuqi dijadikan asisten untuk mengajar adik-adik yang ada di semester awal untuk mata kuliah Bahasa Arab, Nahwu dan Shorf. Ketika mengajar itulah H. Asyhari Marzuqi mengenal Malik Madani (sekarang Dekan Fak. Syariah), Ali As’ad (sekarang politisi) masuk menjadi mahasiswa baru IAIN. Untuk membedakan komponen yang ada di IAIN, pada waktu itu ada atribut yang harus dikenakan oleh seluruh civitas akademika. Dosen dan Asisten pakai atribut (Badge) warna putih dan mahasiswa pakai atribut (Badge) warna hijau. Sehingga terkadang Asyhari Marzuqi kalau pagi pakai atribut warna hijau kemudian siang pakai yang warna putih.

Pada tahun 1970 oleh Prof. Hasbi, Asyhari Marzuqi diminta untuk mengajukan permohonan menjadi Dosen di IAIN. Tapi, karena merasa belum cukup ilmu, beliau tidak menerima tawaran itu. Akan tetapi dari tawaran itulah, Asyhari terpacu untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

Setelah lulus dari IAIN (sekitar tahun 1971), keinginan untuk belajar ke Timur Tengah kembali menguat. Dengan biaya sendiri, akhirnya Asyhari Marzuqi ke Timur Tengah. Ia sangat berharap dapat meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (S2) pada disiplin ilmu yang telah ditekuni di Indonesia.

Ada kisah yang cukup heroik menjelang keberangkatannya ke Timur Tengah. Ceritanya, setelah mendapatkan paspor dan akan berangkat ke Iraq. Asyhari Marzuqi bermaksud sowan kepada bapak RH. Suwardiyono (Pendiri dan Ketua Yayasan Pendidikan Bina Putra) di Gunungkidul. Saat itu masih belum banyak kendaraan angkutan bis. Sehingga apabila ada bis yang Gunungkidul pasti penuh sesak oleh penumpang. Bis yang di dalamnya Asyhari Marzuqi menumpang pada saat itu sudah tidak muat lagi. Karena banyaknya penumpang, akhirnya belasan orang rela berada di atas atap bis. Asyhari pada waktu itu mendapat tempat duduk persis di samping kiri sopir dan disebelah kirinya ada seorang penumpang yang berdiri.Bis yang penuh sesak oleh penumpang itu melaju menuju Wonosari seperti biasa. Sesampai di tikungan irung petruk (Desa Karangsari kec. Patuk), bis masih terkendali. Tetapi setelah tikungan tajam ke kiri, ternyata bis tidak bisa dikendalikan lagi oleh sopir. Bahaya pun datang mengancam karena 15 meter di depan bis itu adalah jurang yang sangat dalam. Sang sopir yang sudah berusaha membanting stir itu bergumam lirih sekali, “aduh, mati!” Hanya Asyhari yang mendengarnya. Benar!. Bis meluncur deras masuk jurang yang dalam itu. Bis menjungkir dan kepala bis lebih dulu menghantam tanah. Kemudian jatuh ke kanan.

Belasan orang meninggal dalam peristiwa kecelakaan tersebut. Belasan lainnya luka berat. Ada yang patah kaki, tangan, dan sebagainya. Kekuasaan Allah berbicara lain pada Asyhari. Hanya karena pertolongan Allah semata beliau dapat selamat. Tak ada sedikit pun luka menggores kulitnya. Padahal secara matematis, mestinya Asyhari, sopir dan orang yang berdiri itu yang terlebih dahulu terkena kaca dan menabrak bongkahan batu mengingat posisi bis yang jungkir ke bawah. Kehendak Allah, orang yang berdiri di samping Asyhari ngglosor persis di depannya, sehingga posisi Asyhari terhalang oleh orang itu dari pecahan kaca dan benturan batu. Asyhari selamat. Bahkan tidak mengalami pingsan, tidak ada luka. Ia kembali ke Yogya dengan selamat. Tetapi dua hari setelah kejadian itu, seluruh tubuhnya terasa sakit tak terkira.

Asyhari Marzuqi berangkat ke Timur Tengah dengan negara tujuan Iraq. Orang-orang seperti KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (mantan Presiden RI), KH. Irfan Zidni (sekarang PBNU) dan yang lainnya sudah berada di sana terlebih dahulu. Beliau berkeinginan untuk menemui mereka. Dengan membawa nama Bapak Mahfudz Ridwan dari Salatiga beliau menemui mereka.

Kedatangan Asyhari Marzuqi di negeri seribu satu malam disambut dengan hangat oleh para mahasiswa yang sudah terlebih dahulu datang. Bahkan Irfan Zidni ikut membantu mencarikannya beasiswa. Ternyata di Iraq tidak ada beasiswa S2 untuk program Syari’ah. “Pupus harapanku untuk melanjutkan S2,” kata hatinya. Namun di sana ada satu kelompok pengajian yang berdiri sejak muridnya Imam Abu Hanifah (sekitar tahun 400-an Hijriyah). Lembaga ini dipelihara dan dikelola dengan baik sekali.

Di lembaga yang bernama “Kulliyatul Imam al-A’zhom” itulah yang akhirnnya H. Asyhari Marzuqi kembali memperdalam pengetahuannya. Waktu itu beliau mendapatkan beasiswa sebesar 15 Dinar perbulan. 1 Dinar sama dengan US $ 3 waktu itu. Beasiswa tersebut cukup untuk bekal hidup dan sedikit membeli buku. Beasiswa itu diterimanya sampai tahun ke-5 berada di Iraq.

Teman-teman belajarnya di Kulliyatul Imam al-A’zhom adalah para khatib dan alim ulama dari negara-negara Timur Tengah. Yang paling banyak datang dari Kurdistan. Mereka ini walaupun sudah menjadi khatib namun belum mempunyai ijazah. Sehingga tidak heran ketika para dosen di tempat itu justru memanggil kawan-kawan Asyhari Marzuqi dengan panggilan “ustadz” karena memang umurnya lebih tua.

Orang-orang Kurdistan ini rata-rata mempunyai daya hafal yang luar biasa. Sehingga Asyhari Marzuqi tidak kaget apabila kitab-kitab seperti Alfiyah, Shohih Bukhori dan Muslim mereka hafal semua. Namun, Alhamdulillah H. Asyhari Marzuqi saat itu masih dapat rangking 3. Prestasi itu membuat H. Asyhari Marzuqi mendapatkan ucapan selamat (penghargaan) dari Menteri Penerangan RI.

Lima tahun setelah mendapatkan beasiswa, H. Asyhari Marzuqi bekerja di Kedutaan Besar RI di Iraq. Dubesnya saat itu adalah Malik Kuswadi orang Jakarta. Tugas H. Asyhari Marzuqi di Kedutaan besar itu pada awalnya adalah menterjemah surat kabar Arab ke dalam bahasa Indonesia. Sehari beliau terkadang bisa menyelesaikan 3 sampai 4 surat kabar.

Keinginan H. Asyhari Marzuqi untuk S2 masih tinggi. H. Asyhari Marzuqi berusaha mencari beasiswa ke Kairo tapi selalu gagal. Akhirnya H. Asyhari Marzuqi mengambil S2 untuk program kuliah jarak jauh (kalau di Indonesia semacam UT) yang ada di Kairo Mesir (Afrika) yaitu di “al-Dirasah al-Islamiyah” dengan biaya pada waktu itu sebesar US $115. Ketika akan mengikuti ujian masuk program itulah (tahun 1978) H. Asyhari Marzuqi mendapatkan telegram dari rumah yang isinya “disuruh pulang”. Beliau pulang dengan meninggalkan ujian.

H. Asyhari Marzuqi pulang ke Indonesia dengan selamat. Sesampai di rumah, oleh Mbah Marzuqi, beliau disuruh untuk memilih calon pendamping hidup. Calon yang disodorkan kepadanya adalah seorang gadis dari Watucongol Muntilan dan seorang putri mBah Kiai pengasuh pondok Somolangu Kebumen. Pilihannya jatuh pada putri mBah Kiai dari Kabumen. Kemudian beliau datang ke Pondok Somolangu di Kebumen. Sesampainya di sana, H. Asyhari Marzuqi disambut dengan luar biasa oleh mBah Kiai. Namun ketika H. Asyhari Marzuqi akan khitbah pada putrinya, beliau dihalang-halangi (tidak diperbolehkan) oleh kakak iparnya (menantu mBah Kiai) padahal sang putri yang mondok di Solo itu sudah ada di rumah karena disuruh pulang untuk acara tersebut. Ketidakbolehan itu karena sang kakak sudah punya calon untuk adiknya yaitu orang dari Jakarta yang kaya.

H. Asyhari Marzuqi pulang ke rumah dengan hati yang masygul. Oleh pak Nurhadi (Tlenggongan Imogiri) beliau disarankan ke Ngrukem Bantul. H. Nurhadi memberinya selembar foto Ibu Nyai Hj. Barokah. Melihat foto itu H. Asyhari Marzuqi langsung setuju. Setelah semuanya diatur, 4 hari berikutnya H. Asyhari Marzuqi menikah dengan Ibu Nyai Hj. Barokah putri dari mBah Kiai Nawawi Abdul Aziz Ngrukem Bantul. Dua hari setelah menikah, H. Asyhari Marzuqi mengantarkan ibu (Hj. Barokah) ke pondoknya di Kediri. Dan dua hari setelah mengantarkan itu, H. Asyhari Marzuqi kembali ke Iraq dan menjalankan aktivitas seperti biasanya.

Delapan bulan setelah menikah, pada tahun 1979, ibu Nyai Hj. Barokah menyusul ke Iraq. Saat itu keinginan H. Asyhari Marzuqi untuk S2 sudah mulai melemah karena selalu gagal mendapatkan beasiswa. Kekecewaan ini akhirnya H. Asyhari Marzuqi lampiaskan dengan membeli kitab-kitab. Pelampiasan ini kemudian menjadi suatu hobi tersendiri bagi H. Asyhari Marzuqi. Sehingga setiap saat ada uang dan kesempatan langsung ia membeli kitab.

Sampai H. Asyhari Marzuqi kembali ke Indonesia pada tahun 1985 ada sekitar 1015 judul kitab dan buku yang telah H. Asyhari Marzuqi beli. Untuk mengirimkan ke rumah di Giriloyo, H. Asyhari Marzuqi titipkan sebagian kitab-kitab itu kepada para diplomat pada waktu mereka kembali ke Indonesia. Karena mereka punya jatah barang bawaan yang banyak di pesawat. Sebagian yang lain buku-buku itu dikirim lewat jasa Pos. Tetapi tidak semua kitab-kitab yang dikirimkan, baik yang dititipkan maupun lewat pos itu sampai ke tempat tujuan di Giriloyo dengan utuh. Kitab-kitab itu banyak yang hilang dan beliau tidak tahu di mana hilangnya.

Pembelian kitab-kitab itu ternyata memberikan pengaruh (atsar) yang besar sekali terhadap hari-hari H. Asyhari Marzuqi selanjutnya. Beliau tidak bisa membayangkan seandainya uang yang diperoleh dari pekerjaannya dahulu itu tidak dibelikan kitab, mungkin beliau tidak memiliki tinggalan (kenangan) pada generasinya nanti. “Seandainya pada saat itu gaji yang diperoleh disimpan dalam bentuk uang mungkin sudah habis sejak dahulu,” kata beliau.


Mengasuh PPNU

Pada tahun 1982, H. Asyhari Marzuqi mendapat telegram dari rumah yang isinya Mbah Marzuqi telah membeli tanah (sekarang menjadi bangunan ndalem) dan mendapat tanah wakaf dari pak H. Anwar untuk didirikan bangunan pondok (Lihat BAB I). H. Asyhari Marzuqi diminta pulang untuk membicarakan masalah Pondok.

Tahun 1985 H. Asyhari Marzuqi meniggalkan negeri Syaikh Abdul Qadir Jilani itu untuk kembali ke tanah kelahiran. H. Asyhari Marzuqi pulang bersama dengan ibu Nyai Hj. Barokah. Kemudian pada tahun 1986 tepatnya pada bulan Ramadlan di pondok Nurul Ummah mulai diadakan pengajian. Saat itu ada 27 santri, yang terdiri dari 25 santri putra dan 2 santri putri.


Pandangan Hidup dan Mauidzah

H. Asyhari Marzuqi selalu berusaha menanamkan rasa pengabdian dan kecintaan, dalam rangka mempersiapkan akhirat. Tuntunan atau pandangan itu terilhami oleh konsep “Addunya Mazro’atul akhirah” : bahwa dunia itu hanya sekedar sarana untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Dunia itu fana, tidak kekal, sehingga dengan ketidakkekalannya itu harus dipergunakan dengan maksimal agar bisa mencapai kebahagiaan akhirat yang kekal. Oleh karena itulah dunia ini dinamakan dar at-taklif yaitu tempat mengemban amanat, mengemban tugas-tugas dari Allah Swt. Karena kalau sudah di akhirat nanti bukan lagi sebagai dar at-taklif , tetapi sebagai dar al-jaza’, yaitu suatu tempat untuk menerima upah dan imbalan atas sesuatu yang telah kita lakukan di dunia dahulu.

- Dari berbagai Sumber (Dikutip dari pratikno.ananto@gmail.com) -


Selengkapnya....

Selasa, 03 Agustus 2010

Gratis $10 dari IM Crew diperpanjang hingga 5 Agustus 2010


Gratis $10 dari IM Crew diperpanjang hingga 5 Agustus 2010..
Silakan mendaftar dan dapatkan bonus pendaftaran $10 dan $2 dari setiap member yang Anda referensikan....
Tinggal isi username yang Anda inginkan dan masukkan e-mail....
Kemudian cek email anda disitu sudah ada username dan password dari IM Crew

Setelah itu Login ke IM Crew masukkan username dan password yang telah diberikan melalui email tadi
Setelah login Anda sudah mendapat welcome bonus $10
Tinggal mengajak 5 orang lagi Anda sudah dapat menarik uang $20 ke rekening PayPal Anda....
Anda juga bisa mengganti password Anda untuk memudahkan Anda mengingat password login Anda...
Jika belum punya Paypal ID dikosongin aja...
AIM, Yahoo IM, Jabber / Google Talk juga bisa dikosongin....

Jika ingin mendaftar Paypal Gratis bisa klik disini

Program ini hampir mirip dengan PayPal WishList yang populer di awal 2010 dan terbukti membayar..
Jika Anda meragukan IM Crew Anda tidak rugi apa2 paling cuma rugi waktu 3 menit....
Tapi jika IM Crew terbukti membayar seperti PayPal WishList maka Anda rugi $10 dan bahkan lebih jika Anda mengetahui info ini tapi tidak ikut program ini karena GRATISS

Untuk itu marilah sebelum habis masa pre-launch hingga 5 Agustus 2010 dapatkan welcome bonus $10.....KLIK DISINI


Selengkapnya....