Cari di Blog ini

Memuat...

Translate

Gunakan Ctrl+F untuk mencari kata dalam halaman ini

Jumat, 18 Juni 2010

Balada Gadis Berjilbab Dengan Pakaian Membungkus Ketat


Ini merupakan Note dari Ustadz Vicky Robbieyanto di Facebook. Saya sangat tertarik dengan tulisan Balada Gadis Berjilbab Dengan Pakaian Membungkus Ketat ini. Setelah saya membaca, saya menyadari di sekitar kita memang banyak perempuan yang memakai jilbab tapi pakaian yang dikenakan sangat ketat hingga tampak sexy dan membuat lelaki yang melihatnya (maaf) terangsang atau istilah lainnya (maaf) nafsu.

Berikut adalah isi dari tulisan Balada Gadis Berjilbab Dengan Pakaian Membungkus Ketat :

Bismillahi Nawaitu Lilahi ta'ala......

“Saiki soyo montok e, Joe.”
“Bajigur, bokonge apik tenan!”
“Opo sok dirempon karo bojone sing saiki?”
“Masih dengan style-nya, jilbab dan baju ketat.”
Atau yang baru aja kudengar tadi siang, “Mau aku ketemu *****, tapi kok kethoke saiki cara berpakaiannya rodo medeni, Cah.”

Yo’a, yang di atas itu cuma pembuka. Kalo aku nggak ngobrol sama seorang temenku waktu di lab inovasi siang tadi, mungkin aja tulisan ini nggak bakal pernah ada. Jadi intinya, kalimat di atas itu adalah kalimat yang paling sering kudengar dari anak-anak Ilkomp sejak setahun terakhir ini. Obyeknya apalagi kalo bukan tentang gaya berpakaian seseorang yang dulu pernah akrab sama aku. Biasanya kalo aku nerima komentar semacam di atas, maka aku cuma menjawab, “Wah, mbuh yo. Mbiyen pas karo aku biasa wae, kok. Ra tau nggatekke, Dab” atau dengan nada guyon tapi kepengen aku bakalan ngomong, “Omongi wae, entuk salam seko aku. Bilang, bocahe ta’enteni neng kamar.”

Dan selanjutnya maka komentarku bakal dibalas, “Gayane… Ra kelingan jaman semono,” atau juga, “Rupamu, Joe. Koyo wani-wanio wae.” (Mohon maaf, bagi yang tidak menguasai J2SE, J2ME, JDK, ataupun Javascript, maka tidak bakal mengerti isi dialog di atas.)

Balik ke judul. Ini sebenernya bukan pengen mendiskreditkan seseorang. Sebenernya malah aku sudah prihatin sama hal yang kayak gitu sejak dulu. Tapi ya gimana ya, wajar kan kalo kekritisan seseorang itu baru muncul ketika sesuatu yang (sempat) dimiliki terusik keberadaannya? Alasan lainnya, lama-lama ya aku bosen juga ndengerin komentar-komentar buat seseorang yang sudah nggak ada hubungannya sama aku. Kayaknya memang sudah saatnya aku merilis pendapatku tentang hal ini kepada publik. Alhasil, kalo waktu dulu, ngeliat orang lain yang kayak gitu aku cuma bisa senyum-senyum ngenyek. “Sido ora e?” Begitulah komentarku dalam hati kalo boleh mengutip istilahnya Topik, temen KKN-ku yang kebetulan anaknya Warek UGM.

Jilbab, tapi pakaiannya ketat, celana model hipster (kadang kalo lagi mbungkuk cawetnya sampe keliatan), menonjolkan lekuk-lekuk tubuh yang bisa dibanggakan, kayaknya jadi makin sering aja kuliat di sepanjang keramaian Jogja. Prihatin sekaligus dongkol aja ngeliatnya. Mbak-mbaknya ini sebenernya ngerti esensi dari perintah berjilbab atau enggak, tho?

Aku sering sinis aja kalo ngeliat cewek-cewek yang kayak gitu (dan celakanya aku jadi tambah sering sinis akhir-akhir ini). Dalam pandanganku aku berpikir, “Halah, Mbak… Nek pengen pamer bodi mbok mending ra sah nganggo jilbab, opo sisan wae udo. Mbangane ngisin-ngisini Islam.” Jujur, aku berpendapat kalo hal-hal yang mereka lakukan itu memperkeruh citra agama Islam.

Aku berpendapat lebih baik mereka-mereka yang nggak berjilbab tapi kelakuannya baik. Lebih baik nggak berjilbab daripada berjilbab tapi pamer bodi. Lha piye, menurutku esensi berjilbab itu untuk menjaga pandangan kaum pria, untuk mencegah wanita dilecehkan dan dijadikan obyek seksual kaum pria. Nah, kalo berjilbab tapi pakaiannya tetap ketat dan menonjolkan lekuk-lekuk tubuh yang khusus dipunyai oleh seorang wanita, ya tetap aja jadi obyek seksual!

Aku nggak tau kalo temen-temenku cowok yang lain gimana. Tapi aku sendiri, aku hampir nggak pernah terangsang sama cewek hanya karena masalah rambut (secara kasat mata, jilbab cuma terlihat menutupi rambut dan leher, kan?). Aku jauh lebih sering terangsang kalo ngeliat cewek yang bodinya mbentuk, mencetak bagian-bagian khusus milik wanita sampai menonjol, nggak peduli dia pake jilbab atau enggak, dan aku pikir mungkin aja temen-temen cowokku yang lain juga kayak gitu. Gampangannya, dibanding cewek nggak berjilbab tapi pakaiannya nggak ngepress, aku lebih terangsang sama cewek berjilbab yang pakaiannya ngepress! (Jangan tuduh aku mesum. Aku cuma bicara realita aja.)

Ini permasalahan umat, menurutku. Apa gunanya mereka berjilbab tapi nggak paham tentang esensi dari berjilbab itu sendiri? Bagiku, jauh lebih mulia mereka yang tidak berjilbab dalam masalah ini.

Mungkin ada yang berpendapat cara berpikirku salah. Fine, nggak pa-pa. Aku sendiri pendukung setia kebebasan berpendapat. Karena aku pernah membaca sebuah pendapat tentang Jilbab Hati vs Jilbab Fisik. Di situ ditulis, lebih baik jilbab fisik duluan ketimbang jilbab hati. Penulisnya bilang, jilbab fisik itu lebih mudah, maka dahulukanlah yang mudah, setelah itu baru pikirkan tentang jilbab hati. Karena juga, siapa yang bisa menjamin umur manusia? Takutnya, ketika jilbab hati belum sanggup dipakai dan jilbab fisik juga belum dikenakan, kita terlanjur dipanggil sama Pemilik Nyawa kita. Nah, kalo gitu takutnya dosa kita jadi dobel. Jilbab hati enggak, jilbab fisik juga belum.

Yup, betul! Tapi entar dulu, kita nggak bisa menggeneralisir semua masalah. Bahkan dalam hal apapun kita tetap perlu melihat dari banyak sudut pandang. Masih banyak yang perlu dikaji lebih dalam dari masalah ini. Bukan sekedar mana yang lebih gampang.

Liat dulu apa motivasi seseorang dalam memakai jilbab. Kalo memang motivasinya bener-bener buat memperbaiki diri, bolehlah pake jilbabnya bertahap: fisik dulu, terus lama-lama levelnya makin meningkat sampe ke jilbab hati.

Tapi kalo motivasinya lain, ya nanti dulu. Sedikit cerita aja dalam kasusku ^_^, dulu si ***** jilbabannya juga bisa dibilang biasa-biasa aja. Pakaiannya nggak ngepress. Normal. Bukan gara-gara dia dulu pernah deket sama aku kalo aku bilang dulu caranya dia berjilbab sangat serasi. Tapi lama kelamaan, lhadalhah…, kok bukannya makin baik, malah sekarang jadi suka menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya (dan jujur ta’akui kalo dia dulu kurus, nggak semontok sekarang).

Mungkin normal kalo dia pengen jadi pusat perhatian cowok-cowok sekarang. Aku pun juga gitu, kok. Masih seneng kalo jadi pusat perhatian cewek-cewek. Cuma ya, akhirnya aku mendefinisikan kalo dia nggak paham atas esensi berjilbab itu sendiri. Atau malah aku jadi meragukan motivasinya berjilbab dulu. Lha gimana, lha wong bukannya makin baik malah makin “binal”! Gimana mau menjaga pandangannya cowok-cowok kalo gitu? Yang ada ya dia malah dapet komentar-komentar kayak di atas tadi. Dan aku nggak tau, apakah dia justru bangga dapet komentar-komentar kayak di atas itu?

Nah, inilah dia. Ini Jogja, Dab! Kota pelajar. Karena sebutan kota pelajar itu akhirnya banyak orangtua yang merelakan anaknya merantau ke Jogja buat nuntut ilmu. Di lain pihak, selain menuntut ilmu, si anak kadang-kadang jadi ngerasa lepas dari pengawasan. Berbuat seenaknya. Toh nggak ada yang ngawasin ini. Nggak ada yang cerewet dan nggak ada yang tau kalo dia mau ngapain.

Buat yang dasar agamanya kurang bagus, jadinya sulit membedakan mana yang sebenernya boleh mana yang nggak. Atau boleh jadi malah keenakan terus ketagihan ngelakuin hal yang sebenernya nggak boleh dilakuin. Lha iya, mana ada dosa yang nggak enak?

Sekali lagi ini Jogja, Dab. Aku akuin, kadang-kadang aku masih terlibat dengan dunia malam. Lebih jujur lagi, aku ngelakuin itu pada dasarnya cuma penasaran sama apa yang membuat mereka ketagihan dengan dunia malam, selain nggak pengen dibilang ndesit ^_^

Dan ternyata aku memang bertemu dengan bermacam-macam karakter setelah kenalan dengan mereka-mereka yang lebih dulu terlibat di situ. Yang aku tau, ada yang kalo siang kita bakal nemuin dia berjilbab dan bertatus sebagai mahasiswi tukang nyembuhin orang sealmamater dengan aku, tapi ketika malam jangan heran kalo kita nemuin dia pake rok mini banget dan tanktop di Hugo’s atau TJ’s. Jangan bertambah heran juga kalo dia pernah ngadain private party di rumahnya dengan tamu yang semuanya cowok sedangkan dia cewek satu-satunya. Lagi-lagi jangan heran kalo dia bilang alasannya berjilbab sekedar, “Ya, biar aku nggak dinilai anak nakal aja di kampus.” Atau oknum lain yang pernah hampir berhasil menjebak aku di kamar kosnya (Astaghfirullah!) dengan entengnya bilang sambil senyum-senyum nakal, “(Jilbab) Ini cuma buat nutupin cupang, kok.”

Masih banyak contoh yang lainnya lagi. Dan inilah realita lain dari motivasi seorang cewek untuk berjilbab! Tentang pendapat Jilbab Hati vs Jilbab Fisik tadi, aku nggak tau mana yang harusnya lebih dulu dilakukan dan mana yang lebih mulia. Aku nggak berhak nge-judge seseorang bener atau salah. Biar Tuhanku yang nentuin. Dia lebih tau. Maka kalo aku pribadi disuruh milih mana yang lebih baik, sebagai seorang manusia yang sudah diberi hak prerogatif oleh Tuhan untuk memilih, aku bakal lebih milih cewek nggak berjilbab tapi kelakuannya nggak minus daripada cewek berjilbab tapi dengan entengnya ngajak aku tidur dalam keadaan setengah mabuk.

Yang jelas, sekarang aku sudah cukup tenang dengan seorang gadis berjilbab di dekatku. Dan, Insya Allah, dia benar-benar berjilbab.....


Tubuh Di Jilbab, Hati Telanjang......

Beberapa waktu lalu, dalam suatu pengajian saya dan rekan-rekan pengajian melakukan perdebatan panjang tentang Jilbab, dan prilaku pemakainya, yang saya sebut dalam hal ini adalah "Tubuh berjilbab Hati Telanjang" Kenapa saya menulis seperti itu, karena kita bisa lihat pada kenyataan sehari-hari, banyak Wanita Muslim yang memakai jilbab masih berkelakuan layaknya masyarakat umum. hal itu dapat kita lihat dari Pemakaian jilbab, tetapi busana yang dikenakan membentuk lekuk tubuhnya, atau yang berjilbab tapi masih pegangan tangan dengan pria yang bukah muhrimnya atau Bahkan ada fenomena yang menurut saya sangat menghina Agama Islam, yaitu banyaknya Wanita berjilbab yang terjerembab dalam Sebuah Zina.(EA)

Menurut wikipedia Kata jilbab (bahasa arab: جلباب ) di Indonesia merujuk pada jenis pakaian berupa penutup kepala dari helaian kain, atau sering juga disebut dengan kerudung atau tudung . Pengertian ini sebenarnya salah kaprah dan hanya berlaku di Indonesia. Di negeri Islam lainnya , jilbab lebih merujuk pada pakaian terusan panjang menutupi seluruh badan kecuali tangan, kaki dan wajah yang biasa dikenakan oleh para wanita muslim. Penggunaan jenis pakaian ini terkait dengan tuntunan ajaran Islam untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat atau dikenal dengan istilah hijab. Sementara kerudung sendiri di dalam Al Qur'an disebut dengan istilah khumur, sebagaimana terdapat pada surat An Nuur ayat 31 : "Hendaklah mereka menutupkan khumur (kerudung-nya) ke dadanya."

Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albany kriteria jilbab yang benar harus menutup seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak , jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas.

Pendapat yang sama sebagaimana dituturkan Ikrimah, jilbab itu menutup bagian leher dan mengulur ke bawah menutupi tubuhnya,sementara bagian di atasnya ditutup dengan khimâr (kerudung) yang juga diwajibkan (QS an-Nur [24]: 31).

Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. (HR Muslim)

Ketika jilbab hanya menjadi tren busana. inilah yang disebut berpakaian tapi telanjang. hijab yang benar adalah menutupi semua aurat tubuh (baik kulit maupun lekuk tubuh) kecuali wajah dan telapak tangan. Kalau anda mengenakan jilbab itu berarti menutup segalanya tidak cuma menutup aurat aja, tapi juga tingkah laku harus direm. Rasanya ngga pantas wanita yang memakai jilbab tapi masih suka tertawa terbahak-bahak, masih suka berpelukan di muka umum, masih suka berpakaian yang super ketat entah itu baju atau celana panjangnya....kamu juga lihat sendiri kan salah kaprah pemakaian jilbab dikalangan wanita muda.(EA)

Saat ini wanita muslim kadang Enggan menggunkan jilbab dengan alasan sebagai berikut:

  • Kesiapan mental untuk meninggalkan pola hidup saat ini
    Banyak yang merasa belum siap secara mental & hati nuraninya untuk memakai jilbab. Kita tahu sendiri gimana era globalisasi begitu kuat mempengaruhi pola pikir, tingkah laku, dan busana apalagi kaum wanita begitu banyak godaannya, baju yang stretch, rok mini, celana seksi, model rambut yang ada-ada aja. Keinginan untuk ikut mengenakan semua itu sangat kuat, sebagian besar ya pengaruh lingkungan & teman-teman kalau tidak mengikuti dibilang ketinggalan jaman. bukan berarti mereka itu ngga ngerti agama loh,malah banyak juga yang agamanya lumayan bagus tapimasih merasa belum siap...masih berupa niat aja.
  • Takut dengan respons lingkungan
    Ini juga banyak yang jadi kendala, seringkali lingkungan menganggap wanita berjilbab itu ngga oke diajak ngobrol soal segala macam, ngga bisa bergaul. Padahal belum tentu yach. Trus kalo berbuat salah sedikit langsung jadi pusat perhatian, Nah ini dia banyak yang belum siap untuk selalu bersikap sempurna...tuntutan ini dari lingkungan terasa besarnya.
  • Masalah kepraktisan
    Sudah jadi rahasia umum baju muslim berjilbab itu harganya lumayan mahal. Namanya wanita apalagi yang modern tetap ingin tampil cantik walaupun berjilbab...tapi banyak juga yang merasa ngga praktis untuk selalu pakai lengan panjang atau rok panjang. Tapi belakangan ini alhamdulillah sebenarnya mulai banyak mode pakaian yang sederhana tapi tetap bisa dipadupadankan dengan jilbab. Untuk ke kantorpun sebenarnya sudah banyak kelonggaran sekarang ini.

Sebagian wanita yang menggunakan jilbab hanya karena sekedar disuruh atau diwajibkan oleh orang tua, tempat belajar atau tempatnya bekerja. Jika telah keluar dari 'aturan' itu, maka lepas pula jilbab yang menutupi kepalanya. Mungkin karena itulah kain-kain itu tidak menutup secara benar kepala dan dada mereka. Sebagian lagi, memakai jilbab karena pada saat itu, jilbab terasa pas untuk dipakai dan lebih menimbulkan kesan 'gaya' dan kereligiusan agama. Apalagi jika diberi pernak-pernik di sana-sini. Jilbab yang seharusnya menutup keindahan wanita tersebut malah justru menambah keindahan itu sendiri. Ditambah lagi kesan agamis yang terasa nyaman di hati. "Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. AllAh Maha pengampun lagi Maha penyayang." (Al Ahzab: 59)

Saya hanya berharap bahwa Wanita muslim dapat segera mengaplikasikan pemakaian jilbab sebab jilbab menjadi identitas utama bagi muslimah. Di mana pun anda berada bila anda mengenakan jilbab, kita dikenali sebagai muslimah. Dan setelah anda menjilbabkan Tubuh Anda, Kaum muslimah juga wajib menjilbabkan Hatinya dengan tidak lagi Berpeganagn atau tidak lagi berpelukan Dengan yang bukan Mahramnya., bahkan marak beredar rekaman Video Orang berjilbab melakukan Hubunga Seks(EA).

Helvy Tiana Rosa mengatakan: "jilbab bukan menjadi satu-satunya indikator ketakwaan Seseorang. Tetapi jilbab menjadi salah satu realisasi amaliyah dari keimanan kita" kerudung = penutup kepala, jilbab = penutup aurat. Semoga semua wanita muslim yang berjilbab dapat menjaga hati dan perbuatan. Karena anda selain membalutkan jilbab ke tubuh anda, anda juga harus membalutkan jilbab ke hati anda. (EA)

Karya Erwin Arianto

Semoga Bermanfaat...

vicky
Halaqah Sirrul Barokah

Sumber : SatchDesign, Erwin, Ustadz Vicky Robbieyanto


Share On Facebook



Lainnya :

9 komentar:

  1. ketok G-stringe,,,hahhahahaa
    mahasiswi jogja yo dab?

    BalasHapus
  2. makasih yo mas utk threadnya, blkngan ini saya juga lg gelisah krn saya sudh niat utk mnutup fisik saya dgn balutan jilbab, tapi saya mrasa ilmu agama saya msh kurang dan kurang bagus tapi stlh membaca trit ini terlbih2 kata2 mas "kalo memang motivasinya bener-bener buat memperbaiki diri, bolehlah pake jilbabnya bertahap: fisik dulu, terus lama-lama levelnya makin meningkat sampe ke jilbab hati."saya jadi smakin yakin mau berjilbab, Insya Allah bertahap sampai kehati jilbabna..aminn, mohon doanya yo mas :D

    - Kuraisin -

    BalasHapus
  3. @Kuraisin
    kita semua mendoakan Anda...Amien...
    oh ya artikel ini tulisannya ustadz vicky di facebook, jika mau dapat ilmu agama yang bagus setiap hari jadi aja teman beliau di facebook, link-nya ada di artikel ini, klik aja

    BalasHapus
  4. Jilbab n G-string?
    Jd Pusing.....
    Jd bingung....
    Jd makin tambah aneh dan semakin layak untuk dipertanyakan tentang Esensi dr Jilbab untuk pemakai Jilbab dikaum mayoritas Muslim....
    why?..

    BalasHapus
  5. podo ae kang,,,saiki ng jogja wes okeh,,,,ngembyah,,nganti koyo peyek,,,,
    lagian yo gek ngetren,,,
    tapi q setuju karo omongane sampeyan,,,percuma nek go jilbab tapi pakaian ketat,,mending rasah jilbaban,,,
    saumpama diperkosa yo dudu salahe sing merkosa,lha wong wedok'e yo mancing syahwat,,,,

    BalasHapus
  6. betul mas dab omonganmu..
    podo wae to nak nduwur kerudung tapi ngisore warung..
    mending malah rasah nganggo kerudung,,,
    dari pada nggawe isin agama,,,
    tur yo mesti gawe isin umat liane barang,,

    BalasHapus
  7. jaman saiki sing di pentungke iku cuma penampilan lan aksi ,gaya ,nggak ada mikir norma agama di semua kalangan sdh berubah sulit mencari yang benar2 ok

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya berharap klo bisa harus menghindari hal2 yang di larang agama

      Hapus