Cari di Blog ini

Translate

Gunakan Ctrl+F untuk mencari kata dalam halaman ini

Rabu, 18 Agustus 2010

Kiai-Kiai

Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri


Meskipun Arief Budiman bukan dari kalangan pesantren dan tidak begitu dekat dengan kiai, pandangannya tentang kiai sungguh terbilang jeli. Dia membuat kategorisasi menarik: kiai itu ada tiga. 1. Kiai produk masyarakat. 2. Kiai produk pemerintah. 3. Kiai produk pers.

Mula-mula tentu kiai produk masyarakat. Orang yang sangat dihormati masyarakat dan karenanya mereka menyebutnya kiai. Seperti diketahui, istilah kiai itu berasal dari Jawa. Orang Jawa biasa memberi sebutan kiai untuk apa atau siapa pun yang sangat mereka hormati dan pundi-pundi. Kiai Sabuk Inten dan Nagasasra, misalnya, adalah keris. Kiai Pleret tombak. Di pewayangan, Arjuna punya panah yang disebut Kiai Pasopati; Dasamuka punya kendaraan garuda yang disebut Kiai Kolo Marico. Di Keraton Sala, bahkan kerbau disebut Kiai Slamet.

Kiai jenis yang pertama inilah yang diketahui memiliki ilmu agama karena memang mengamalkan dan tidak hanya menyiarkannya. Ada yang berusaha mencontoh Nabi Muhammad SAW dari sisi nubuwwah, kenabiannya; maka jadilah ia panutan di masyarakat dalam perilaku hamba yang saleh. Ia baik dengan Al-Khalik dan baik dengan makhluk. Ada yang berusaha meneladani Rasulullah SAW dari sisi risalahnya; maka tampak sekali hidupnya dihabiskan untuk masyarakat. Mengawani masyarakat; mendidik dan membimbing mereka. Membela dan menolong mereka. Ada -meski sangat sedikit jumlahnya- yang berusaha melaksanakan kedua peran kenabian dan kerasulan sekaligus; maka inilah sebenarnya yang patut disebut pewaris nabi, min Waratsatil Anbiyaa.

Karena itulah, tentu saja, kiai jenis ini mempunyai pengaruh di masyarakat. Besar-kecil atau luas-sempitnya pengaruh kiai ini tergantung tingkat keilmuan, amaliah, dan kedekatannya kepada Tuhan dan masyarakatnya. Lalu, pemerintah yang selalu memerlukan dukungan untuk kebijakan-kebijakan yang diambilnya bagi masyarakat pun senantiasa berusaha memanfaatkan kiai yang memiliki pengaruh ini. Kiai yang berhasil digandeng pemerintah tidak selalu tergandeng sepenuh hati. Karena itu, pemerintah -terutama di zaman Orde Baru dulu- selain menggunakan kiai yang setengah hati ini, juga melakukan upaya penahbisan kiai; salah satu caranya mungkin melalui lembaga semacam MUI itu. Maka sering terjadi, ketika kebijaksanaan pemerintah tidak sesuai atau apalagi bertentangan dengan kehendak rakyat, kiai-kiai yang dekat dengan pemerintah pun menjadi kurban: dijauhi masyarakatnya sendiri.

Sudah diketahui bahwa pers merupakan pembentuk opini paling ampuh. Karena itu, tidak heran bila pers juga bisa memproduk kiai. Apalagi setelah popularitas kiai sudah mulai menyaingi selebriti. Bukan hanya itu, pers -entah kerja sama dengan siapa saja- dapat membuat kiainya lebih dari kiai-kiai jenis lain dengan memberikan embel-embel tambahan seperti kiai karismatik, kiai khas dan sebagainya. Boleh jadi, ketenaran kiai made in pers ini jauh melebihi kiai produk masyarakat.

Kalau mau lebih detail, sebenarnya masih ada dua jenis kiai lagi; yaitu kiai produk politisi dan kiai produk sendiri. Mula-mula -seperti halnya pemerintah- politisi atau pimpinan partai berusaha mendekati kiai melalui broker-broker kiai yang bisa saja dari orang ndalem (anak, menantu, atau santri kiai) atau orang luar yang dekat dengan sang kiai. Tapi, lama-lama mereka ini berusaha dan ternyata mampu -tentu saja dengan bantuan pers- memproduk kiai sendiri. Bahkan, sekaligus membuatkan wadah untuk para kiai itu. Kiai produk sendiri, mungkin, ini yang termurah. Modalnya hanya kemampuan akting, menghafal beberapa ayat dan hadis, busana kelengkapan seperti sorban (yang lebih wibawa yang berwarna hijau, tapi memang agak mahal sedikit), baju koko atau lebih afdol lagi jubah. Kalau mau lebih sukses, ya harus mengeluarkan lebih banyak lagi dana; paling tidak untuk menggaji manajer dan kaki-tangan-kaki-tangan.

Nah, di musim pemilu, saat dukungan sangat diperlukan untuk meraih suara sebanyak-banyaknya, jenis-jenis kiai itu semua tentu ikut meramaikan dan menyemarakkan perhelatan nasional ini. Karena itu, Anda tak perlu kaget atau bingung. Berharap saja, mudah-mudahan di antara mereka itu masih banyak kiai yang tetap istiqamah memikirkan Indonesia dan bangsa Indonesia. Paling tidak, mengawani rakyat dengan kearifan dan doa mereka. Amien.


Dr. KH. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.

Sumber : pratikno.ananto@gmail.com



Lainnya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar